Teknologi

Belajar dari Kejatuhan Nokia, Finlandia Tancap Gas Bangun Kekuatan AI Eropa

×

Belajar dari Kejatuhan Nokia, Finlandia Tancap Gas Bangun Kekuatan AI Eropa

Share this article

Tasikmalayahitz.com, Helsinki – Finlandia berupaya memperkuat posisinya dalam perlombaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) global agar tidak mengulangi pengalaman pahit yang pernah dialami saat kehilangan dominasi perusahaan telekomunikasi Nokia di pasar teknologi dunia. Sabtu (20/6).

Dikutip dari Kompas.com yang mengulas laporan Euractiv, Finlandia kini menempatkan pengembangan AI sebagai salah satu prioritas strategis nasional. Langkah tersebut dilakukan di tengah dominasi perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat dan China dalam pengembangan teknologi AI global.

Bagi Finlandia dan Eropa, hilangnya dominasi Nokia di industri ponsel menjadi pelajaran berharga. Pada akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an, Nokia merupakan produsen ponsel terbesar di dunia. Namun, kemunculan iPhone pada 2007 dan sistem operasi Android setahun kemudian membuat posisi Nokia merosot drastis.

Pada 2014, bisnis ponsel Nokia akhirnya dijual kepada Microsoft. Meski perusahaan tersebut masih beroperasi hingga kini di sektor jaringan telekomunikasi, pengaruhnya tidak lagi sebesar saat menjadi raja ponsel dunia.

Baca juga: Dosen UBSI Tasikmalaya Raih Hibah Pengabdian Masyarakat Nasional 2026: Bukti Nyata Kontribusi Teknologi untuk UMKM Lokal

Laporan Euractiv menyebut Finlandia tidak ingin kehilangan momentum dalam revolusi AI sebagaimana yang terjadi pada era ponsel pintar. Saat ini, perkembangan AI dinilai memiliki dampak besar yang setara dengan kemunculan internet pada 1990-an dan smartphone pada awal 2000-an.

Perlombaan AI global saat ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat seperti OpenAI, Google, Meta, dan Anthropic, serta perusahaan China seperti DeepSeek, Alibaba, dan Baidu. Sementara itu, kehadiran perusahaan Eropa di sektor tersebut masih relatif terbatas.

Salah satu perusahaan yang menjadi simbol perkembangan AI Finlandia adalah Silo AI yang berbasis di Helsinki. Perusahaan tersebut sebelumnya dikenal sebagai laboratorium AI swasta terbesar di Eropa dengan lebih dari 300 ahli di bidang machine learning, computer vision, dan teknologi bahasa.

Silo AI sempat bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar Eropa seperti Allianz, Philips, Rolls-Royce, dan Unilever. Namun, perusahaan tersebut kemudian diakuisisi oleh perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat, AMD.

Pasca-akuisisi tersebut, salah satu pendiri Silo AI, Peter Sarlin, mendirikan perusahaan baru bernama NestAI yang berfokus pada pengembangan teknologi AI berdaulat untuk Eropa. Pada akhir 2025, NestAI berhasil memperoleh pendanaan sebesar 100 juta euro atau sekitar Rp1,79 triliun.

Menariknya, salah satu investor utama NestAI adalah Nokia. Perusahaan yang pernah menjadi ikon teknologi Finlandia itu kini kembali terlibat dalam pengembangan teknologi masa depan melalui investasi dan kemitraan strategis di sektor AI.

Baca juga: Teknologi Tak Cukup Canggih Tanpa Sentuhan Manusia: UNM Bahas Harmoni AI dan Psikologi dalam Seminar “Unlock Beyond AI”

NestAI dan Nokia saat ini bekerja sama mengembangkan teknologi AI untuk berbagai kebutuhan, termasuk aplikasi pertahanan, robotika, kendaraan tanpa awak, dan sistem operasi otonom yang dikenal sebagai physical AI.

“NestAI sejak awal bertekad menjadi laboratorium physical AI terdepan di Eropa untuk mendorong kedaulatan teknologi,” kata Peter Sarlin, dikutip KompasTekno dari TechCrunch.

Selain mendukung perusahaan AI, Finlandia juga tengah bersaing menjadi lokasi pembangunan AI Gigafactory atau pabrik AI raksasa yang didukung Uni Eropa. Fasilitas tersebut dirancang sebagai pusat komputasi berskala besar yang dapat digunakan perusahaan-perusahaan Eropa untuk mengembangkan dan menjalankan model AI mereka sendiri.

Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif InvestAI Uni Eropa yang menargetkan investasi hingga 200 miliar euro atau sekitar Rp4.080 triliun di bidang AI dan komputasi berkinerja tinggi.

Dalam proyek ini, Nokia dipercaya menjadi koordinator konsorsium bisnis Finlandia. Negara tersebut bersaing dengan Jerman, Prancis, dan Belanda yang juga mengajukan diri sebagai lokasi pembangunan fasilitas AI berskala besar tersebut.

Salah satu keunggulan Finlandia adalah keberadaan superkomputer LUMI di Kajaani. LUMI merupakan salah satu superkomputer exascale pertama di Eropa dan dikenal sebagai salah satu superkomputer paling hemat energi di dunia karena menggunakan energi hidroelektrik terbarukan untuk sistem pendinginannya.

Melalui investasi besar pada perusahaan AI, pembangunan infrastruktur komputasi modern, serta dukungan dari sektor swasta dan pemerintah, Finlandia berharap dapat memperkuat kedaulatan teknologi Eropa dan memastikan benua tersebut tidak kembali tertinggal dalam gelombang teknologi masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *