Teknologi

China Larang Hubungan Romantis dengan Chatbot AI Demi Atasi Penurunan Angka Kelahiran

×

China Larang Hubungan Romantis dengan Chatbot AI Demi Atasi Penurunan Angka Kelahiran

Share this article

Tasikmalayahitz.com, Jakarta  – Pemerintah China resmi memberlakukan aturan baru yang melarang hubungan emosional atau romantis antara manusia dan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI). Kebijakan yang mulai berlaku pada 15 Juli 2026 tersebut diterapkan sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi penurunan angka kelahiran dan menyusutnya jumlah penduduk di negara itu. Kamis (16/7).

Dikutip dari Kompas.com, kebijakan ini berdampak langsung pada sejumlah perusahaan teknologi besar, seperti Alibaba dan ByteDance, yang harus menyesuaikan layanan chatbot AI mereka agar sesuai dengan regulasi pemerintah. Salah satu chatbot paling populer di China, Doubao milik ByteDance, bahkan menonaktifkan fitur custom persona, yaitu fitur yang memungkinkan pengguna menciptakan karakter AI dengan kepribadian tertentu.

Baca juga: Kenalkan Teknologi AI, UBSI Kampus Tasikmalaya Adakan Workshop Chatbot Telegram di SMAN 1 Cineam

Pemerintah China menilai tren meningkatnya penggunaan AI companion atau chatbot pendamping berpotensi membuat generasi muda lebih memilih menjalin hubungan emosional dengan AI dibanding membangun hubungan dengan manusia. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin memperburuk rendahnya angka pernikahan dan kelahiran di China.

Dalam aturan baru tersebut, pemerintah melarang pengguna di bawah umur menjalin hubungan emosional dengan chatbot AI, membatasi layanan AI yang mendorong ketergantungan emosional, serta mewajibkan layanan chatbot pendamping menjalani evaluasi regulator sebelum dapat digunakan oleh masyarakat. Pemerintah juga memiliki kewenangan untuk menghentikan layanan AI yang dianggap tidak memenuhi standar keamanan.

Langkah tersebut diambil di tengah krisis demografi yang tengah dihadapi China. Pada 2025, populasi negara tersebut kembali mengalami penurunan untuk tahun keempat berturut-turut, sementara tingkat kelahiran mencapai rekor terendah sepanjang sejarah. Pemerintah khawatir kecenderungan generasi muda yang enggan menikah dan memiliki anak akan semakin diperparah oleh kehadiran AI pendamping.

Baca juga: PERKUAT WAWASAN DAN PENGALAMAN, HIMASI GELAR DISKUSI TEKNOLOGI BERSAMA DEMISIONER

Akibat penerapan aturan ini, banyak pengguna Doubao mengaku kehilangan karakter AI yang selama ini menjadi teman berbincang maupun pasangan virtual mereka. Sejumlah warganet di China bahkan menyampaikan rasa kecewa dan sedih di media sosial karena karakter yang telah mereka bangun selama berbulan-bulan tiba-tiba tidak lagi tersedia.

Meski demikian, sejumlah pengamat menyebut aturan yang diterapkan pemerintah saat ini lebih longgar dibandingkan rancangan regulasi sebelumnya. Chatbot yang digunakan untuk layanan pelanggan maupun kebutuhan bisnis tetap diperbolehkan beroperasi, selama tidak dirancang untuk membangun hubungan emosional dengan pengguna.

Pemerintah China berharap kebijakan tersebut dapat menciptakan penggunaan teknologi AI yang lebih sehat, melindungi kesehatan mental masyarakat, sekaligus mendukung upaya jangka panjang dalam mengatasi penurunan angka kelahiran di negara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *