Tasikmalayahitz.com, Jakarta – Gaya hidup serba praktis yang kini banyak dijalani generasi muda atau Gen Z dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal kronis pada usia produktif. Para ahli mengingatkan, kebiasaan tersebut dapat berdampak serius apabila tidak diimbangi dengan pola hidup sehat.
Mengutip dari detikHealth, Minggu (28/6), Associate Professor Dr. Do Dinh Tung, Direktur Duc Giang General Hospital di Hanoi, Vietnam, mengatakan diabetes kini tidak lagi didominasi oleh kelompok usia lanjut. Penyakit tersebut bahkan semakin banyak ditemukan pada usia 20 hingga 30 tahun, bahkan remaja.
“Diabetes semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. Saat ini penyakit tersebut sering didiagnosis pada usia 20-30 tahun, bahkan remaja,” ujar Dr. Do Dinh Tung.
Menurutnya, perubahan gaya hidup menjadi penyebab utama meningkatnya kasus tersebut. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, minim aktivitas fisik, serta terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar membuat banyak anak muda mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas.
Baca juga: Hidup Manis Tanpa Kelebihan Gula: 3 Pilar Utama Menguasai Diabetes Melitus
Selain itu, pola tidur yang tidak teratur, stres berkepanjangan, dan penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan juga dapat mengganggu metabolisme tubuh. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami diabetes tipe 2 beserta berbagai komplikasinya.
Sementara itu, Dr. Nguyen Thi Thanh Hai dari Hospital 19-8 Vietnam menjelaskan sekitar 30 hingga 40 persen penderita diabetes mengalami komplikasi pada ginjal. Bahkan, diabetes menjadi salah satu penyebab utama penyakit gagal ginjal kronis di dunia.
Ia menuturkan, banyak pasien usia muda hanya fokus mengontrol kadar gula darah tanpa rutin memeriksakan kondisi ginjalnya. Padahal, kerusakan ginjal akibat diabetes umumnya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Ketika gejala seperti pembengkakan, urine berbusa, sering buang air kecil pada malam hari, atau tubuh mudah lelah mulai muncul, fungsi ginjal biasanya telah mengalami penurunan yang cukup berat.
Baca juga: Dokter Ungkap Penyebab Katup Jantung Bocor, Rematik Jantung Jadi Salah Satu Pemicunya
“Deteksi dini berarti masih ada kesempatan untuk melindungi fungsi ginjal,” tegas Dr. Hai seperti mengutip dari detikHealth, Minggu (28/6).
Para ahli menyarankan penderita diabetes untuk melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara rutin, setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun. Pemeriksaan tersebut meliputi tes urine untuk melihat kadar albumin, serta tes darah seperti kreatinin dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR).
Selain pemeriksaan berkala, masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga kadar gula darah tetap stabil, mengontrol tekanan darah dan kolesterol, mengurangi konsumsi garam, serta tidak mengonsumsi obat-obatan tanpa anjuran dokter.
Melalui perubahan gaya hidup sejak dini dan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, risiko komplikasi serius seperti gagal ginjal dapat diminimalkan sehingga kualitas hidup tetap terjaga.







