Tasikmalayahitz.com, Jakarta – Anggapan bahwa setiap orang dewasa harus tidur selama delapan jam setiap malam agar tetap sehat ternyata tidak selalu berlaku bagi semua orang. Sejumlah penelitian menunjukkan kebutuhan tidur dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi tubuh, lingkungan, usia, hingga kebutuhan masing-masing individu.
Mengutip dari detikHealth, Kamis (27/8), ulasan terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Brain Medicine pada Agustus 2026 mempertanyakan anggapan bahwa pola tidur selama delapan jam tanpa terputus merupakan standar yang berlaku untuk semua orang.
Para peneliti menilai pola tidur manusia sejak dahulu menunjukkan tingkat fleksibilitas yang cukup besar. Kebiasaan tidur masyarakat sebelum era industri juga diketahui tidak selalu mengikuti pola tidur modern yang teratur setiap malam.
Baca juga: Ampuh Atasi Overthinking, Ini 7 Gerakan Yoga Sederhana agar Tidur Lebih Nyenyak
“Pola tidur manusia di masyarakat praindustri menunjukkan fleksibilitas yang substansial, yang menunjukkan bahwa norma-norma kontemporer tentang tidur malam yang teratur bukanlah sesuatu yang tetap secara evolusioner,” tulis para peneliti.
Dalam kajiannya, peneliti turut mempelajari pola tidur sejumlah komunitas pemburu-pengumpul untuk memahami kebiasaan tidur manusia secara lebih alami. Studi yang dikutip dari jurnal Current Biology menunjukkan masyarakat di Tanzania dan Bolivia memiliki durasi tidur sekitar 5,7 hingga 7,1 jam setiap malam.
Durasi tidur tersebut tidak sepenuhnya dapat dikaitkan dengan gangguan kehidupan modern seperti paparan media sosial, kebisingan lalu lintas, maupun penggunaan cahaya buatan.
Lama tidur masyarakat praindustri juga diketahui bervariasi karena dipengaruhi berbagai faktor, seperti lokasi tempat tinggal, musim, lingkungan, serta metode yang digunakan untuk mengukur waktu tidur. Sebuah analisis yang diterbitkan pada Februari 2025 bahkan memperkirakan rata-rata durasi tidur masyarakat tersebut berada di angka sekitar 6,4 jam.
Perubahan besar dalam pola tidur manusia kemudian terjadi seiring perkembangan industrialisasi, urbanisasi, serta penggunaan listrik. Kehadiran cahaya buatan membuat batas alami antara waktu terang dan gelap semakin berubah.
Baca juga: Jangan Sering Jilat Bibir, Petroleum Jelly Bisa Bantu Atasi Bibir Kering dan Pecah-Pecah
Di era modern, aktivitas hingga malam hari serta paparan cahaya buatan dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Kondisi tersebut apabila berlangsung secara terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.
Meski demikian, bukan berarti tidur dalam durasi yang terlalu singkat merupakan pilihan terbaik. Sejumlah penelitian besar menunjukkan bahwa tidur sekitar delapan jam masih berkaitan dengan kondisi kesehatan yang baik bagi banyak orang.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Mei 2026 juga meneliti hubungan antara durasi tidur dengan proses penuaan pada berbagai organ tubuh. Melalui pemindaian otak dan tubuh serta pengukuran molekuler, penelitian tersebut memperkirakan kebutuhan tidur ideal berada pada kisaran 6,4 hingga 7,8 jam.
Durasi tersebut dapat berbeda-beda tergantung jenis kelamin dan organ yang menjadi fokus pengamatan. Artinya, kebutuhan tidur setiap individu tidak dapat disamakan secara mutlak.
Sementara itu, Sleep Foundation merekomendasikan orang dewasa berusia 26 hingga 64 tahun untuk tidur sekitar tujuh sampai sembilan jam setiap hari. Meski demikian, beberapa orang dapat membutuhkan waktu tidur yang lebih pendek atau lebih panjang sesuai kondisi tubuhnya.
Dengan demikian, delapan jam tidur bukanlah aturan mutlak yang harus dipenuhi oleh semua orang. Hal yang lebih penting adalah menjaga pola tidur yang cukup, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing.




