Tasikmalayahitz.com, Jakarta – Kabar baik datang bagi klub-klub peserta Super League musim 2026/2027. I.League memastikan dana kontribusi yang akan diterima setiap klub mengalami peningkatan dibandingkan musim sebelumnya, yakni menjadi Rp 27 miliar.
Mengutip dari detikSport, Jumat (28/8), kenaikan dana kontribusi tersebut disampaikan Direktur Utama I.League Ferry Paulus setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) I.League yang berlangsung di Jakarta, Rabu (26/8).
Pada musim sebelumnya, setiap klub peserta kompetisi menerima dana kontribusi sebesar Rp 19 miliar. Dengan adanya peningkatan sebesar Rp 8 miliar, klub-klub kini akan memperoleh modal tambahan untuk mempersiapkan tim menghadapi persaingan musim 2026/2027.
Baca juga: Dominasi GBLA dan Mental Juara: Persib Bandung Segel Gelar Juara Paruh Musim BRI Super League
“Subsidi masih sama seperti musim yang lalu ya, tetapi yang kami berikan sesungguhnya naik. Naik atau lebih besar ya, yang awalnya Rp 19 miliar kemudian kali ini kami memberikan sebesar Rp 27 miliar,” kata Ferry Paulus seperti mengutip dari detikSport, Jumat (28/8).
Dana sebesar Rp 27 miliar tersebut diperkirakan menjadi dana kontribusi tetap yang diterima secara merata oleh seluruh klub peserta. Sementara itu, masih terdapat peluang bagi klub untuk mendapatkan tambahan pendapatan melalui skema kontribusi lainnya.
Pada musim-musim sebelumnya, I.League menerapkan skema variable contribution yang jumlahnya dapat berbeda untuk setiap klub. Besaran tambahan tersebut dapat dipengaruhi sejumlah faktor, seperti hak siar, rating pertandingan, pembagian pendapatan televisi, posisi akhir di klasemen, hingga pemenuhan aspek club licensing.
Ferry menyebut dana kontribusi sebesar Rp 27 miliar yang diberikan kepada klub tidak memiliki potongan atau syarat tambahan tertentu. Artinya, klub masih berpeluang memperoleh dana tambahan dari skema kontribusi variabel yang diterapkan I.League.
Selain meningkatkan dana kontribusi, I.League juga menyiapkan kebijakan baru untuk mendorong klub memberikan kesempatan bermain kepada pemain muda.
Baca juga: PSSI Setujui Persija Jamu Persib di SUGBK, Laga Dijadwalkan 12 September
Pada Super League musim 2026/2027, aturan wajib memainkan pemain U-23 selama minimal 45 menit tidak lagi diterapkan. Namun, kebijakan tersebut akan digantikan dengan sistem insentif bagi klub yang memberikan menit bermain kepada pemain muda.
“Regulasi pemain U-23 memang dihapus. Kemudian, penggantinya akan diberikan insentif bagi klub-klub yang menggunakan pemain-pemain U-23 dengan menit bermain secara gradual,” ujar Ferry Paulus seperti mengutip dari detikSport, Jumat (28/8).
Menurutnya, kebijakan tersebut dibuat untuk mendorong klub lebih berani memberikan kesempatan kepada pemain muda. I.League ingin melihat semakin banyak pemain potensial Indonesia berkembang dan mendapatkan menit bermain di kompetisi tertinggi sepak bola nasional.
Ferry menilai usia pemain yang bersinar di level sepak bola dunia kini semakin muda. Karena itu, pihaknya ingin mendorong munculnya lebih banyak talenta muda Indonesia yang mampu berkembang sejak usia dini.
“Kalau kita melihat benchmark dari klub-klub di luar, sekarang usia emas-nya sudah betul-betul bergeser. Kita lihat yang namanya Dony Tri Pamungkas masih muda, 20 tahun, tapi Lamine Yamal lebih muda lagi,” tuturnya.
“Nah, kami ingin punya Yamal-Yamal yang lain juga, sehingga kami memberikan insentif yang betul-betul ekstra. Semakin muda pemain yang diturunkan, semakin besar insentif yang diberikan,” katanya.
Dengan kenaikan dana kontribusi serta kebijakan insentif untuk pemain muda, I.League berharap klub-klub Super League dapat memiliki kekuatan finansial yang lebih baik. Kebijakan tersebut juga diharapkan mampu mendorong persaingan kompetisi sekaligus mempercepat perkembangan talenta muda sepak bola Indonesia.




