Kesehatan

Pelari Pemula Lebih Rentan Alami Rhabdomyolysis, Ini Penjelasan Dokter

×

Pelari Pemula Lebih Rentan Alami Rhabdomyolysis, Ini Penjelasan Dokter

Share this article

Tasikmalayahitz.com, Jakarta – Olahraga lari memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Namun, aktivitas fisik yang dilakukan secara berlebihan tanpa persiapan yang memadai justru dapat memicu gangguan kesehatan serius, salah satunya rhabdomyolysis.

Rhabdomyolysis merupakan kondisi kerusakan jaringan otot yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk gangguan ginjal akut hingga gagal ginjal. Risiko tersebut disebut lebih rentan dialami oleh pelari pemula yang belum terbiasa melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.

Mengutip dari detikHealth, Sabtu (20/6), dokter spesialis penyakit dalam, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama rhabdomyolysis pada pelari pemula adalah kurangnya persiapan fisik sebelum berolahraga.

“Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya,” kata dr Tunggul.

Baca juga: Mengatasi Cedera Saat Berolahraga: Panduan Penanganan Komprehensif

Menurutnya, banyak pelari pemula yang langsung melakukan aktivitas berat tanpa melalui tahapan pemanasan yang cukup. Kondisi tersebut membuat otot bekerja secara mendadak dan meningkatkan risiko terjadinya kerusakan jaringan otot.

“Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu (rhabdo) terutama pada pemula,” lanjutnya seperti mengutip dari detikHealth, Sabtu (20/6).

Meski demikian, dr Tunggul menegaskan bahwa risiko rhabdomyolysis tidak hanya mengintai pelari pemula. Atlet berpengalaman pun tetap berpotensi mengalami kondisi serupa apabila memaksakan tubuh melakukan aktivitas fisik yang sangat berat secara tiba-tiba.

Ia mencontohkan, kasus rhabdomyolysis juga pernah terjadi pada pelari maraton berpengalaman yang telah terbiasa menempuh jarak hingga 42 kilometer. Menurutnya, faktor aktivitas fisik yang berlebihan dan mendadak menjadi pemicu utama terjadinya kondisi tersebut.

“Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak,” ujarnya.

Selain kurangnya pemanasan, faktor lain yang dapat meningkatkan risiko rhabdomyolysis adalah dehidrasi atau kekurangan cairan selama berolahraga. Kondisi cuaca yang panas ekstrem juga dapat memperburuk keadaan, terutama jika seseorang tetap memaksakan diri untuk beraktivitas fisik.

“Salah satu faktor (kekurangan cairan) tapi bukan itu utamanya. Tapi kalau itu dehidrasi, dehidrasi sendiri bisa menjadi acute kidney injury kan. Jadi gangguan gagal ginjal akut, jadi bisa memperberat, bisa mencetuskan,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat yang ingin memulai olahraga lari atau aktivitas fisik berintensitas tinggi diimbau untuk melakukan pemanasan secara bertahap, menjaga asupan cairan tubuh, serta menyesuaikan kemampuan fisik agar terhindar dari risiko cedera maupun gangguan kesehatan yang lebih serius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *