TasikmalayaHitz. Pernah nggak sih kamu merasa aneh saat buka Facebook atau X (Twitter), lalu melihat kolom komentar isinya foto-foto makanan atau pemandangan yang estetik tapi caption-nya nggak nyambung? Atau mungkin kamu sering nemu akun yang pengikutnya ratusan ribu, tapi interaksinya terasa sangat kaku?
Kalau iya, kamu mungkin sedang berhadapan langsung dengan apa yang disebut para ahli digital sebagai Dead Internet Theory. Fenomena ini sedang jadi perbincangan hangat hari ini karena banyak netizen yang mulai sadar bahwa internet tidak lagi semenarik dulu. Internet yang dulunya tempat manusia asli bertukar cerita, kini pelan-pelan “mati” dan diambil alih oleh algoritma serta akun-akun bot.
Teori ini awalnya dianggap lelucon, tapi di tahun 2026 ini, kenyataannya mulai terlihat jelas. Konten-konten yang kita konsumsi sehari-hari ternyata banyak yang diproduksi secara massal oleh mesin hanya untuk mengejar traffic atau iklan.
Seorang peneliti teknologi ternama, Geoffrey Hinton, yang sering dijuluki sebagai salah satu “Bapak AI” namun kini vokal menyuarakan kekhawatirannya, pernah memberikan kutipan nyata yang sangat relevan:
“Kita harus sangat khawatir. Sangat sulit untuk mencegah aktor jahat menggunakan teknologi ini untuk hal-hal buruk, termasuk membanjiri ruang publik dengan informasi yang tidak lagi bisa kita bedakan mana yang asli dan mana yang palsu,” tegas Hinton dalam salah satu wawancara terbarunya.
Kenapa Ini Penting Buat Kita?
Masalahnya bukan cuma soal robot, tapi soal bagaimana opini kita dibentuk. Saat kita melihat sebuah isu viral dan banyak orang berkomentar setuju, ternyata bisa saja ribuan komentar itu hanyalah bot yang dipasang untuk menggiring opini publik.
Di level lokal seperti di Tasikmalaya, tren ini terasa lewat banyaknya akun-akun anonim yang mendadak muncul saat ada isu politik atau ekonomi sensitif, lalu menghilang begitu saja. Kita jadi makin sulit membedakan mana aspirasi warga yang jujur dan mana yang cuma “pesanan”.
Gimana Cara Tetap Menjadi ‘Manusia’ di Internet?
Supaya nggak terjebak dalam pusaran internet yang “mati” ini, ada beberapa hal simpel yang bisa kita lakukan:
- Verifikasi Sebelum Emosi: Jangan langsung percaya sama berita yang punya ribuan like tapi sumbernya nggak jelas.
-
Cari Interaksi Nyata: Cobalah lebih banyak ngobrol di komunitas lokal yang kamu tahu orang-orangnya asli (seperti grup hobi atau komunitas warga).
-
Kurangi Scroll Tanpa Tujuan: Algoritma dirancang untuk membuatmu terus menonton. Sesekali, taruh HP-mu dan nikmati obrolan di dunia nyata sambil ngopi.
Dunia digital memang makin canggih, tapi jangan sampai kita kehilangan sisi kemanusiaan kita hanya karena kalah cepat sama algoritma.



