Wisata

Embun Upas di Dieng Rusak Puluhan Hektar Tanaman Kentang, Kerugian Diperkirakan Capai Rp70 Juta per Hektar

×

Embun Upas di Dieng Rusak Puluhan Hektar Tanaman Kentang, Kerugian Diperkirakan Capai Rp70 Juta per Hektar

Share this article

Tasikmalayahitz.com, Banjarnegara, – Fenomena embun upas (frost) kembali melanda kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, dan menyebabkan kerusakan pada puluhan hektar tanaman kentang milik petani. Selain menjadi daya tarik wisata, suhu dingin ekstrem yang memicu terbentuknya kristal es tersebut berdampak serius terhadap sektor pertanian. Rabu (15/7) .

Dikutip dari Kompas.com, fenomena embun upas terjadi sejak Kamis (9/7/) hingga Jumat (10/7/2026) di sejumlah wilayah Dataran Tinggi Dieng.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Ady, mengatakan hasil pemantauan sementara menunjukkan sekitar 25 hingga 30 hektar lahan kentang terdampak embun beku.

“Estimasi luas tanaman kentang yang terkena dampak embun upas mencapai kisaran 25–30 hektar berdasarkan pemantauan sementara di lapangan,” ujar Firman.

Berdasarkan laporan Pemerintah Desa Dieng Kulon dan para petani, embun upas muncul di sejumlah lokasi, antara lain Lapangan Pandawa, area parkir Kompleks Candi Arjuna, Gasiran Aswatama, Kalibana, dan Kompleks Setyaki.

Baca juga: Wisata Bahari Labuan Bajo Meningkat, Lebih dari 232 Ribu Wisatawan Berlayar pada Semester I 2026

Firman menjelaskan para petani sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak suhu dingin, seperti menyiram tanaman pada siang dan sore hari agar terbentuk uap air yang dapat menekan suhu dingin pada pagi hari. Selain itu, petani juga memasang paranet dan menggunakan daun bambu sebagai pelindung tanaman.

Namun, berdasarkan hasil wawancara dengan para petani, tanaman kentang yang berusia 40 hari ke bawah umumnya tidak dapat diselamatkan karena langsung mati setelah terkena embun upas.

“Tanaman yang berumur sekitar 40 hari ke bawah umumnya tidak dapat diselamatkan setelah terdampak embun upas dan kalau dirata-rata, estimasi nilai kerugiannya mencapai Rp70 juta per hektar,” jelas Firman.

Ia menambahkan, tanaman yang terdampak memiliki usia yang beragam, mulai dari tanaman yang baru ditanam hingga yang mendekati masa panen. Petani yang mengalami gagal panen diperkirakan baru dapat kembali menanam sekitar September 2026, setelah kondisi cuaca lebih mendukung.

Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan bahwa embun upas merupakan fenomena alam yang lazim terjadi saat musim kemarau dan berbeda dengan salju.

Baca juga: Libur Sekolah, Kunjungan Wisata ke Pangandaran Tembus 89 Ribu Orang

Menurutnya, embun upas terbentuk ketika embun atau uap air membeku akibat suhu udara yang turun drastis hingga mendekati atau berada di bawah titik beku. Proses tersebut berlangsung sejak malam hingga menjelang pagi.

Yoga menjelaskan, fenomena ini dipengaruhi oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia sehingga tutupan awan berkurang. Kondisi tersebut menyebabkan panas dari permukaan bumi lebih cepat terlepas pada malam hari sehingga suhu udara turun secara signifikan.

Meski memberikan kerugian bagi sektor pertanian, embun upas tetap menjadi daya tarik wisata musiman di Dieng karena wisatawan dapat menyaksikan hamparan kristal es yang terbentuk secara alami di sejumlah kawasan dataran tinggi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *