TasikmalayaHitz. – Memasuki pekan kedua Januari 2026, fluktuasi harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional Kota Tasikmalaya mulai menjadi perhatian serius. Berdasarkan pantauan di Pasar Induk Cikurubuk dan Pasar Pancasila pada Senin (12/1/2026), kenaikan signifikan terjadi pada komoditas cabai rawit, bawang merah, dan daging ayam yang dipicu oleh faktor cuaca ekstrem serta kendala distribusi dari daerah penghasil.
Kenaikan harga ini mulai dikeluhkan baik oleh konsumen rumah tangga maupun para pelaku usaha kuliner lokal. Kondisi ini jika terus berlanjut tanpa intervensi, dikhawatirkan akan memicu kenaikan inflasi daerah dan menurunkan daya beli masyarakat di awal tahun.
Menanggapi fenomena tahunan yang kerap berulang ini, pengamat ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga rantai pasok agar tetap stabil.
“Pemerintah daerah harus memperkuat kerja sama antar-daerah untuk menjamin kelancaran pasokan pangan. Stabilitas harga di pasar tradisional sangat bergantung pada efisiensi distribusi. Jika pasokan terganggu karena cuaca, maka operasi pasar dan pengawasan stok di gudang-gudang distributor harus segera ditingkatkan agar tidak terjadi spekulasi harga,” ungkap Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia.
Di tingkat pedagang, kenaikan harga ini menyebabkan penurunan omzet karena masyarakat cenderung mengurangi jumlah pembelian. Beberapa pedagang memilih untuk tidak menyetok barang dalam jumlah besar demi menghindari kerugian akibat barang yang layu atau tidak terjual.
Haji Maman, salah satu pedagang di Pasar Cikurubuk, mengaku harus memberikan pengertian ekstra kepada pelanggannya.
“Pembeli banyak yang kaget, biasanya beli sekilo sekarang cuma setengah atau seperempat. Kami sebagai pedagang juga serba salah, modalnya sudah tinggi dari sananya. Harapan kami pasokan lancar lagi supaya harga kembali normal dan pasar ramai lagi,” ujarnya.
Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Dinas Perdagangan diharapkan segera melakukan langkah taktis, termasuk rencana Operasi Pasar Murah (OPM) di beberapa titik jika tren kenaikan harga ini tidak kunjung melandai dalam satu minggu ke depan. Kesigapan pemerintah dalam merespon harga pangan menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas ekonomi masyarakat di awal tahun 2026.







