Kesehatan

Beda Hasil Pemeriksaan Usus Buntu di Indonesia dan Penang, Dokter Ungkap Penyebabnya

×

Beda Hasil Pemeriksaan Usus Buntu di Indonesia dan Penang, Dokter Ungkap Penyebabnya

Share this article

TasikmalayaHitz.com, Jakarta – Perbedaan hasil pemeriksaan medis yang dialami seorang influencer bernama Fahira Almira menjadi perhatian publik. Ia mengaku mendapat diagnosis berbeda setelah menjalani pemeriksaan terkait kondisi usus buntu di sejumlah rumah sakit di Indonesia dan kemudian di Penang, Malaysia.

Mengutip dari detikHealth, Rabu (12/8), dokter sekaligus pakar Global Health Security, dr Dicky Budiman, mengatakan perbedaan diagnosis antarrumah sakit bukan merupakan hal yang aneh. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang dapat menyebabkan hasil pemeriksaan pasien berbeda, terlebih dalam kasus Fahira terdapat jeda pemeriksaan hingga sekitar tiga bulan.

“Kenapa bisa terjadi perbedaan diagnosis antar rumah sakit? Ini bukan fenomena aneh, ya, atau eksklusif di Indonesia atau di ASEAN bahkan,” tutur dr Dicky kepada detikcom dalam wawancara pada Selasa (11/8/2026).

Menurut dr Dicky, sedikitnya terdapat tiga faktor utama yang dapat memengaruhi perbedaan diagnosis. Faktor tersebut meliputi kemampuan tenaga medis, kondisi masing-masing pasien, serta waktu pemeriksaan.

Baca juga: Usus Sehat, Hidup Nikmat: Panduan Menjaga Kesehatan Usus

Salah satu pemeriksaan yang menjadi perhatian adalah ultrasonografi (USG). Dr Dicky menjelaskan, hasil pemeriksaan USG sangat bergantung pada kemampuan operator yang melakukan pemeriksaan. Kondisi tersebut membuat hasil USG pada satu pasien dapat berbeda tergantung teknologi yang digunakan serta pengalaman tenaga medis.

“Secara objektif, USG itu bersifat sangat operator dependent, jadi studi menunjukkan apendiks (usus buntu) gagal tervisualisasi pada 30-50% kasus. Artinya, variasinya sangat bergantung juga pada keahlian operator, termasuk teknologi, skill, dan pengalaman,” imbuhnya.

Selain kemampuan operator, kondisi tubuh pasien juga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan. Beberapa kondisi, seperti obesitas, keberadaan gas dalam usus, hingga posisi apendiks yang berada di belakang sekum atau retrosekal, dapat membuat organ tersebut lebih sulit terlihat melalui USG.

“Kemudian, ada faktor pasien juga. Jadi, misalnya pasiennya obesitas, ga ada gas usus, posisi apendiks juga retrosekal. Ini terjadi pada 60 persen kasus dan ini yang sangat memengaruhi hasil dari USG itu,” tambahnya.

Faktor berikutnya adalah waktu. Menurut dr Dicky, kondisi peradangan pada tubuh tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Radang dapat mengalami perburukan, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat mereda dengan sendirinya.

“Kemudian juga faktor waktu, jadi kondisi klinis bisa berubah antar pemeriksaan. Jadi, radang bisa memburuk tapi juga bisa mereda spontan atau self-limiting appendicitis. Ini dikenal sekali dalam literatur. Ketika ada jeda waktu antara pemeriksaan di Indonesia dan di Penang cukup lama, hasil yang berbeda tidak otomatis berarti satu pihak keliru. Bisa jadi kondisinya memang berubah si pasien,” jelasnya.

Baca juga: Dokter Anak Ingatkan Orangtua Cermat Memilih Air Minum dan Kemasan Aman bagi Anak

Selain itu, dr Dicky menyebut adanya kemungkinan kondisi lain yang menyerupai gejala radang usus buntu. Salah satunya adalah fecal impaction atau penumpukan tinja yang dapat menimbulkan rasa sakit pada bagian kanan bawah perut.

“Selain itu, ada diagnosis banding. Yang relevan di sini adalah fecal infection atau penumpukan tinja. Kondisi ini bisa menimbulkan nyeri perut kanan bawah yang mirip apendisitis dan juga secara teori bisa menyebabkan distensi ya, pembesaran apendiks tanpa inflamasi,” pungkas dr Dicky.

Ia menegaskan, kemungkinan adanya penumpukan tinja memang dapat dipertimbangkan dalam kasus tersebut. Namun, kondisi itu tidak serta-merta membuktikan bahwa pemeriksaan yang dilakukan tiga rumah sakit di Indonesia sebelumnya mengalami kesalahan.

Dr Dicky menilai masih terdapat beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan perbedaan hasil pemeriksaan Fahira. Pasien bisa saja mengalami peradangan ringan yang kemudian membaik dengan sendirinya. Kemungkinan lainnya adalah adanya diagnosis awal yang terlalu mengarah pada kondisi tertentu.

Menurutnya, untuk memastikan penyebab sebenarnya diperlukan rekam medis dan hasil pemeriksaan yang lengkap. Dengan demikian, perbedaan diagnosis tidak dapat langsung disimpulkan sebagai kesalahan salah satu fasilitas kesehatan tanpa melihat seluruh proses pemeriksaan dan kondisi pasien secara menyeluruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *