TasikmalayaHitz.com, Tasikmalaya – Antusiasme generasi muda terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI) terlihat dalam Workshop Digital Kreatif bertajuk “Vibe Coding dan Ilusi Ancaman AI” yang diselenggarakan oleh Digital Creative Community (DICO) & USBI Kampus Tasikmalaya dengan salah satu kegiatan utama yaiut Program CeriMAI (Cerdas & Mahir AI) pada Selasa (14/7/2026) di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Tasikmalaya.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan dosen sekaligus praktisi AI, Agung Baitul Hikmah dengan dipandu oleh Haerul Fattah sebagai host.
Workshop ini menjadi ruang belajar yang interaktif bagi mahasiswa, pelajar, komunitas digital, hingga masyarakat umum untuk memahami bagaimana AI dapat dimanfaatkan sebagai alat kolaborasi, bukan ancaman terhadap karier maupun masa depan dunia kerja.
Dalam pemaparannya, Agung Baitul Hikmah menjelaskan konsep Vibe Coding, sebuah pendekatan baru dalam pengembangan aplikasi yang memungkinkan seseorang membangun sistem cukup dengan memberikan instruksi menggunakan bahasa manusia (natural language) kepada AI, tanpa harus menulis kode secara manual.
Ia mengibaratkan Vibe Coding seperti memesan makanan di restoran. Pengguna cukup menyampaikan kebutuhan secara jelas, kemudian AI akan menerjemahkan instruksi tersebut menjadi aplikasi atau program yang diinginkan. Menurutnya, peran manusia kini mulai bergeser dari sekadar “penulis kode” menjadi seorang perancang solusi (digital architect) yang mampu mengarahkan AI secara efektif.
Selain membahas Vibe Coding, peserta juga diajak memahami bahwa kekhawatiran AI akan menggantikan manusia sebenarnya hanyalah sebuah ilusi. AI diposisikan sebagai alat bantu layaknya kalkulator yang mempercepat pekerjaan, bukan menggantikan profesi manusia. Yang justru menjadi tantangan adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan memanfaatkan AI secara optimal.
“Yang akan menggantikan pekerjaan kita bukanlah AI, tetapi orang yang mampu memanfaatkan AI lebih baik daripada kita. Karena itu, yang perlu kita tingkatkan bukan rasa takut, melainkan kemampuan berkolaborasi dengan teknologi,” ujar Agung Baitul Hikmah, M.Kom.
Ia juga menekankan bahwa di era AI, kemampuan yang semakin dibutuhkan bukan hanya menguasai bahasa pemrograman, tetapi juga keterampilan menyusun prompt atau instruksi yang jelas agar AI dapat menghasilkan solusi sesuai kebutuhan. Dengan kemampuan tersebut, proses pekerjaan yang biasanya memakan waktu berhari-hari dapat diselesaikan hanya dalam hitungan jam.
Pada sesi praktik, peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan AI untuk membantu proses analisis kebutuhan sistem, penyusunan Entity Relationship Diagram (ERD), hingga implementasi menggunakan Google Apps Script sebagai salah satu contoh penerapan Vibe Coding dalam membangun aplikasi berbasis Google Workspace.
Host kegiatan sekaligus Head of DICO Tasikmalaya, Haerul Fattah, mengungkapkan bahwa workshop ini merupakan bagian dari komitmen DICO dalam meningkatkan literasi digital masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih siap menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Baca juga: Workshop Digital Kreatif: Kupas Tuntas Vibe Coding dan Ilusi Ancaman AI, Siap Digelar di UBSI Tasikmalaya
“Kami ingin mengubah cara pandang Gen Z terhadap AI. AI bukan lawan yang harus ditakuti, tetapi partner yang harus dipahami. Harapannya, setelah mengikuti workshop ini peserta tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi mampu memanfaatkannya untuk berkarya, berinovasi, bahkan menciptakan solusi digital yang bermanfaat,” ungkap Haerul.Suasana workshop berlangsung dinamis. Peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan mengenai peluang karier di era AI, teknik membuat prompt yang efektif, hingga bagaimana memulai membangun aplikasi dengan bantuan AI meskipun belum memiliki pengalaman pemrograman yang mendalam.
Melalui kegiatan ini, DICO Tasikmalaya berharap semakin banyak generasi muda yang memiliki pola pikir adaptif terhadap perkembangan teknologi. AI bukan lagi dipandang sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai akselerator produktivitas yang dapat membantu menciptakan inovasi di berbagai bidang.
Menutup sesi materi, Agung menyampaikan pesan yang menjadi inti dari workshop tersebut.
“Berhenti menjadi sekadar kuli ketik. Mulailah menjadi digital architect. AI hanyalah alat, sedangkan kreativitas, logika, dan kemampuan memecahkan masalah tetap menjadi kekuatan utama manusia.”
Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya talenta-talenta digital baru di Tasikmalaya yang siap memanfaatkan AI secara bijak, kreatif, dan produktif dalam menghadapi tantangan era transformasi digital.



