Tasikmalayahitz.com, Tasikmalaya – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya menyelenggarakan kegiatan Seminar Pemuda Digital di Hotel Horison Tasikmalaya, Kamis (15/10). Mengusung tema “Creative Mind in the AI Era”, kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat hubungan dengan sekolah, mitra sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 13.00 WIB ini, dihadiri sekitar 100 Guru BK dari 100 sekolah. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk menambah wawasan mengenai perkembangan AI serta pemanfaatannya dalam mendukung kreativitas dan kegiatan pendidikan di sekolah.
Baca juga: Workshop Digital Kreatif: Kolaborasi 7 Jurus BK dan Pemanfaatan AI untuk Wujudkan Guru BK Hebat
Kepala Kampus UBSI kampus Tasikmalaya, Agung Baitul Hikmah, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan wawasan teknologi, namun juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan kerja sama dengan sekolah mitra.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mempererat silaturahmi dengan sekolah sekaligus memberikan tambahan ilmu mengenai pemanfaatan AI agar para guru lebih melek terhadap teknologi dan dapat mengembangkan kreativitas juga menerapkannya di sekolah masing-masing,” katanya, saat diwawancarai langsung.
Ia menambahkan, UBSI kampus Tasikmalaya selama ini telah menjalin kerja sama dengan kurang lebih 100 sekolah di wilayah Priangan Timur.
“Melalui kegiatan tersebut, hubungan baik yang telah terbangun diharapkan semakin kuat, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam menghadapi perkembangan teknologi di dunia pendidikan,” tambahnya.
Selain itu, seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang berbagi wawasan dan pengalaman sesuai bidangnya. Pertama ada Lina Dwi Puryanti, sebagai Hypnotherapist, Educational Content Creator, dan Founder Edukangel Leader, mengingatkan pentingnya peran pendidik juga mental yang baik seorang guru dalam membangun hubungan yang bermakna dengan peserta didik.
“Anak-anak mungkin akan lupa apa yang kita ajarkan, kita sampaikan. Tapi mereka akan selalu ingat bahwa kita pernah hadir,” ungkap Lina.
Pesan tersebut menegaskan bahwa di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan AI, kehadiran serta pendekatan manusiawi seorang pendidik, tetap memiliki arti penting dalam proses pembelajaran. Teknologi dapat membantu meningkatkan efektivitas pendidikan, tetapi nilai kepedulian dan hubungan emosional tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peran guru.
Baca juga: DICO Tasikmalaya Ajak Gen Z Jadi Digital Architect Melalui Workshop Vibe Coding dan AI
Sementara itu, Nurul Ichsan, Head of DICO (Digital Creative Community), menjelaskan bahwa guru BK dapat mulai beralih ke layanan digital dengan membuat aplikasi sendiri menggunakan Base44 atau bekerja sama dengan UBSI melalui pendampingan DICO.
“Guru BK bisa membuat aplikasi sendiri atau bermitra dengan UBSI, sementara DICO akan memberikan pendampingan agar layanan BK menjadi lebih mudah dan terarah,” jelasnya.
Ichsan juga menekankan pentingnya penggunaan AI secara bijak serta penerapan kode etik di sekolah agar teknologi dimanfaatkan untuk hal-hal positif.
“AI adalah alat bantu. Semakin cerdas orang yang menggunakannya, semakin baik pemanfaatannya. Karena itu, penting bagi sekolah untuk memiliki aturan agar AI digunakan secara positif,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, UBSI yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, berharap para guru BK dapat semakin terbuka terhadap perkembangan teknologi, khususnya AI, serta mampu memanfaatkannya secara bijak dan kreatif sesuai kebutuhan pendidikan. Dengan semangat “Creative Mind in the AI Era”, UBSI kampus Tasikmalaya terus mendorong kolaborasi, kreativitas, dan pengembangan kompetensi agar dunia pendidikan mampu menghadapi tantangan era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.




