TasikmlayaHitz.,TASIKMALAYA, 11 Mei 2025 – Kelompok mahasiswa kelas 19.2B.17 dari program studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) PSDKU Kota Tasikmalaya sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertema Hak Asasi Manusia (HAM). Acara ini, bagian dari tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, berfokus pada peningkatan pemahaman HAM bagi peserta didik Paket ABC program SIMY di Kampung Galumpit.
Kegiatan berlangsung pada Minggu, 11 Mei 2025, dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, bertempat di Kampung Galumpit. Sebelum acara dimulai, para mahasiswa berkumpul pukul 11.00 WIB di Sekretariat Komunitas Pager Asik untuk persiapan akhir dan menunggu volunteer Pager Asik yang sama-sama akan ikut serta dalam kolaborasi ini.
Kegiatan ini terwujud berkat kolaborasi erat antara mahasiswa UBSI PSDKU Kota Tasikmalaya dengan Yayasan Rumah Harapan Kita (RHK) dan Komunitas Pager Asik. RHK adalah organisasi yang fokus pada pemberdayaan masyarakat dan isu kemanusiaan, dengan SIMY (Social Innovation Academy) sebagai program pelatihan untuk menyiapkan pihak-pihak potensial seperti pegiat NGO, praktisi CSR, dan organisasi pemuda dalam inovasi sosial. Salah satu program kerja yang dimiliki SIMY adalah program penyetaraan Pendidikan Paket ABC. Sementara itu, Komunitas Pager Asik adalah komunitas di bawah naungan RHK yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial sebagai pelaksana tugasnya, menyasar kelompok rentan seperti Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE), Disabilitas, Anak yang memerlukan perlindungan khusus, dan Lanjut Usia Terlantar.
Nabilah Sri Mulyani sebagai Koordinator Lapangan/Ketua Kelompok, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menyampaikan dan berbagi ilmu yang didapat mahasiswa kepada masyarakat, khususnya peserta didik, agar mereka memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai pentingnya Hak Asasi Manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Tanggung jawab saya memastikan semua bergerak sesuai rencana, mulai dari briefing pagi sampai evaluasi akhir. Kelancaran acara ini hasil kerja tim yang solid,” ujarnya.
Acara ini dibagi menjadi dua sesi utama. Sesi pertama adalah pematerian tentang HAM yang disampaikan oleh Aldzira Gustiananova, pengajar internal dari program SIMY. Materi ini disesuaikan dengan tema Hak Asasi Manusia untuk peserta didik di Kampung Galumpit, memastikan informasi yang disampaikan relevan dan mudah dicerna.
Selanjutnya, sesi kedua berupa Forum Group Discussion (FGD) yang dipandu langsung oleh mahasiswa UBSI. Dalam FGD, peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan berbagai kasus atau pengalaman pelanggaran HAM yang pernah mereka alami atau ketahui. Pendekatan interaktif ini dirancang agar peserta dapat memahami materi secara lebih mendalam dan aplikatif.
Gun Gun Praseda, yang berperan sebagai Koordinator Humas & Koordinasi Kolaborator, menegaskan pentingnya sinergi ini. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan semua pihak yang terlibat. Sinergi antara mahasiswa, yayasan, dan komunitas lokal ini adalah kunci keberhasilan kami dalam memberikan edukasi yang berarti dan menjangkau langsung masyarakat,” ujarnya. Gun Gun adalah salah satu orang yang berperan penting dalam proses komunikasi antara tim mahasiswa dengan Pager Asik dan RHK, memastikan semua kebutuhan koordinasi terpenuhi dengan lancar.
Anggota kelompok lainnya juga berperan vital dalam kesuksesan acara. Arsya Saiba fokus pada bidang sekretaris dan persiapan logistik, memastikan semua perlengkapan, mulai dari konsumsi hingga alat tulis, tersedia tepat waktu. “Kalau logistik beres, semua bisa fokus materi dan diskusi,” kata Arsya, yang sigap menyiapkan segala kebutuhan di lapangan.
Ramadani Ilham Bintang bertanggung jawab pada penyusunan materi pendukung FGD, memastikan setiap panduan diskusi mudah dipahami dan relevan. “Penting bagi kami membuat materi yang bisa memancing peserta untuk berpikir kritis dan berbagi pengalaman. Kami ingin diskusi ini hidup,” jelas Ramadani.
Muhammad Abidzar Ghiffary dan Ilham Maulana berperan aktif sebagai videografer dan fasilitator yang mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan agar dapat diabadikan dengan sempurna. Mereka memastikan setiap peserta mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk berpendapat. “Saya di sini sangat senang bisa mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan yang punya makna tersendiri, tanpa dokumentasi yang bagus maka acara ini rasanya tidak akan lengkap,” ungkap Abidzar. Ilham menambahkan, “Tugas kami menciptakan suasana nyaman agar setiap orang merasa bebas bertanya dan berdiskusi. Interaksi langsung ini sangat penting untuk membangun pemahaman HAM yang konkret.”
Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai hak asasi manusia dan pentingnya memahami serta melindungi HAM dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman berharga dalam fasilitasi dan komunikasi sosial, mengukuhkan peran mereka sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.



