TasikmalayaHitz – Perubahan cara belajar generasi muda, terutama mahasiswa, kini menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik. Hal ini disampaikan oleh Bambang Kelana Simpony, Dosen Universitas BSI Kampus Tasikmalaya yang ditemui oleh TasikmalayaHitz pada Senin 19 Mei 2025, ia menyoroti fenomena pembelajaran di era dominasi konten digital singkat seperti TikTok, Reels, dan Shorts.
“Mahasiswa saat ini tumbuh dalam ekosistem informasi yang serba cepat, visual, dan ringkas. Ini mempengaruhi cara mereka menyerap informasi, bahkan dalam ruang kuliah,” ungkap Bambang.
Menurutnya, dosen tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode ceramah panjang seperti dulu. Perlu pendekatan baru yang lebih kontekstual, interaktif, dan relevan dengan gaya belajar digital mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa platform seperti TikTok tidak hanya membentuk pola konsumsi konten, tetapi juga ekspektasi terhadap pembelajaran. Mahasiswa cenderung lebih mudah menangkap materi yang disajikan dalam bentuk video singkat, infografis, atau diskusi langsung yang ringkas dan padat.
“Durasi perhatian mereka memendek. Maka sebagai dosen, kita harus mampu merancang materi pembelajaran yang tetap substantif tapi tidak membosankan,” tambahnya.
Namun, Bambang menekankan bahwa mengikuti gaya digital mahasiswa bukan berarti mengurangi kualitas akademik. “Tantangannya justru bagaimana menyampaikan materi yang kompleks dengan cara yang sederhana tapi tidak dangkal,”ujarnya.
Ia sendiri mulai menerapkan microlearning, storytelling, dan integrasi media visual dalam proses mengajar untuk menjaga keterlibatan mahasiswa.
Universitas BSI Kampus Tasikmalaya terus mendorong inovasi pengajaran berbasis teknologi digital. Dosen didorong untuk memanfaatkan platform e-learning, video kreatif, dan media sosial sebagai bagian dari ekosistem belajar. “Selama kita mau beradaptasi, perubahan ini bisa menjadi peluang, bukan ancaman,” kata Bambang.
Melalui opini ini, ia mengajak sesama pendidik untuk tidak memandang perubahan sebagai hambatan. “Generasi hari ini memang belajar dengan cara yang berbeda. Maka, kita pun harus mengajar dengan cara yang berbeda,” pungkasnya.









