BeritaOpiniPendidikan

Apa yang Bisa Dipelajari Programmer dari Tukang Cukur?

132
×

Apa yang Bisa Dipelajari Programmer dari Tukang Cukur?

Share this article

TasikmalayaHitz -Di tengah maraknya pembicaraan tentang kecerdasan buatan, algoritma kompleks, dan metode pengembangan perangkat lunak terkini, seorang dosen dari Universitas BSI Kampus Tasikmalaya justru menyarankan para calon programmer untuk belajar dari sumber yang paling tak terduga: tukang cukur di kampung mereka.

Bambang Kelana Simpony, seorang dosen di bidang teknologi informasi, mengungkapkan bahwa banyak produk digital gagal di pasar karena para penciptanya terlalu fokus pada kode dan lupa pada penggunanya. Menurutnya, seorang tukang cukur kampung adalah master dalam hal yang sering dilupakan oleh para tech giant: hubungan manusia yang autentik.

“Silakan datang ke tukang cukur langganan Anda. Ia tahu persis gaya rambut yang Anda suka, ingat anak Anda baru masuk sekolah, dan tahu topik obrolan apa yang membuat Anda nyaman. Tanpa disadari, ia adalah seorang UX researcher, customer relationship manager, dan product manager yang hebat, semua dalam satu orang, dan tanpa gelar sarjana,” ujar Bambang.

Bambang menjelaskan tiga pelajaran utama yang bisa dipetik programmer dari interaksi sederhana di kursi tukang cukur:

  1. Pemahaman Mendalam akan ‘User’: Tukang cukur tidak hanya memotong rambut; ia memahami “pekerjaan” yang harus diselesaikan. Pelanggan tidak hanya ingin rambut pendek, mereka ingin tampil percaya diri, mendapatkan pujian, atau sekadar bersantai. “Programmer seringkali hanya memahami ‘what’ (apa yang diminta), tapi jarang menggali ‘why’ (mengapa itu dibutuhkan),” kata Bambang.
  2. Feedback Loop yang Langsung dan Pribadi: Jika hasil potongan tidak sesuai keinginan, tukang cukur akan segera memperbaikinya. Ia membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh pelanggan secara real-time. “Ini adalah ‘user testing’ yang paling efektif. Di dunia digital, kita terlalu sering tersembunyi di balik analytics dan laporan, lupa dengan percakapan nyata dengan pengguna.”
  3. Membangun Kepercayaan, Bukan Sekadar Transaksi: Anda mempercayakan leher Anda pada pisau cukur orang asing. Kepercayaan itu dibangun dari konsistensi, keahlian, dan sentuhan personal. “Aplikasi atau platform yang sukses adalah yang berhasil membangun kepercayaan seperti itu. Pengguna harus merasa aman dan dipahami, bukan hanya dieksploitasi datanya.”

Inilah mengapa, menurut Bambang, pendekatan pembelajaran di Universitas BSI dirancang untuk “menurunkan” mahasiswa dari menara gading mereka. “Kami tidak ingin mahasiswa kami hanya berkutat di depan laptop. Melalui proyek pengabdian masyarakat dan kerjasama industri, kami paksa mereka untuk berbicara dengan UMKM, dengan pedagang pasar, dengan siapa saja yang menjadi calon pengguna mereka. Mereka harus belajar mendengar, mengamati, dan merasakan masalah dari sudut pandang orang lain,” jelasnya.

“Teknologi yang hebat bukanlah yang paling canggih, melainkan yang paling memahami manusia. Dan pelajaran terbaik tentang kemanusiaan seringkali ada di tempat-tempat yang paling sederhana, seperti di kursi tukang cukur kampung. Itulah mengapa kami di BSI berusaha mencetak lulusan yang tidak hanya ‘tech-savvy’ tetapi juga ‘people-savvy,” pungkas Bambang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *