OpiniPendidikan

Apa yang Bisa Dipelajari Programmer dari Memasak? Dosen BSI: Segalanya

104
×

Apa yang Bisa Dipelajari Programmer dari Memasak? Dosen BSI: Segalanya

Share this article
Memasak dan pemrograman. Dua aktivitas yang sepertinya berada di dua alam semesta yang berbeda

TasikmalayaHitz- Memasak dan pemrograman. Dua aktivitas yang sepertinya berada di dua alam semesta yang berbeda. Satu membutuhkan apron dan panci, satunya membutuhkan laptop dan keyboard. Namun, Bambang Kelana Simpony, seorang dosen dari Universitas BSI Kampus Tasikmalaya, memiliki pandangan lain: untuk menjadi programmer hebat, belajarlah dari seorang koki.

“Banyak yang membayangkan programmer sebagai sosok yang duduk di depan layar, mengetik kode-kode rumit tanpa emosi. Anggapan itu salah besar. Pemrograman yang sesungguhnya adalah seni kreatif yang sangat mirip dengan memasak,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, kesamaan fundamental antara memasak dan pemrograman terletak pada proses sistematis untuk mengubah bahan mentah menjadi produk akhir yang bernilai.

Ia membeberkan analogi mendalam yang sering ia gunakan di dalam kelas:

  • Resep Masakan adalah Algoritma: “Resep adalah serangkaian instruksi langkah demi langkah yang harus diikuti untuk menciptakan sebuah hidangan. Itulah algoritma dalam dunia pemrograman. Seorang programmer yang baik, seperti seorang koki, harus mampu membuat ‘resep’ yang jelas, efisien, dan logis.”
  • Bahan Makanan adalah Data: “Tepung, gula, telur, dan rempah-rempah adalah data mentah. Seorang koki tahu cara memilih dan mengolah bahan-bahan ini. Demikian pula programmer, ia harus memahami jenis-jenis data (teks, angka, gambar) dan cara memanipulasinya untuk menghasilkan informasi yang berguna.”
  • Mencicipi dan Menambah Bumbu adalah Debugging: “Tidak ada koki yang sempurna di percobaan pertama. Mereka terus mencicipi, mengecek rasa, dan menambahkan garam atau gula jika kurang pas. Proses inilah yang dalam pemrograman kita sebut debugging—menemukan kesalahan (bug) dan memperbaikinya hingga program berjalan sempurna.”
  • Penyajian (Plating) adalah Antarmuka Pengguna (UI/UX): “Sebuah makanan bisa sangat enak, tapi jika penyajiannya tidak menarik, selera makan bisa hilang. Dalam pemrograman, sebuah aplikasi bisa sangat canggih, tapi jika antarmukanya membingungkan dan tidak nyaman, pengguna akan pergi. Kami ajarkan mahasiswa untuk ‘menyajikan’ karya mereka sebaik mungkin.”

Filosofi “Dapur” di Universitas BSI

Pendekatan ini, menurut Bambang, bukan sekadar trik untuk menjelaskan materi, melainkan filosofi pembelajaran yang dianut di Universitas BSI. “Kami tidak ingin mencetak ‘tukang masak’ yang hanya bisa mengikuti resep. Kami ingin mencetak ‘chef’ yang mampu menciptakan hidangan orisinalnya sendiri.”

“Di ‘dapur’ kami, yaitu laboratorium dan kelas-kelas di BSI, mahasiswa tidak hanya diberi resep. Mereka didorong untuk bereksperimen, mencoba kombinasi ‘bumbu’ (teknologi) baru, menggagalkan resep, dan belajar dari kegagalan itu. Proyek-proyek mereka adalah ‘hidangan uji coba’ yang dievaluasi tidak hanya dari fungsionalitasnya, tapi juga dari kreativitas dan efisiensinya,” jelasnya.

Bambang berharap, dengan analogi ini, lebih banyak anak muda yang tidak lagi takut untuk terjun ke dunia teknologi. “Jika Anda suka mengatur rencana, senang bereksperimen, dan puas saat melihat orang lain menikmati hasil karya Anda, maka Anda memiliki jiwa seorang programmer. Dan di BSI, kami siap membantu Anda mengasahnya,” pungkasnya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *