Tasikmalayahitz.com, Jakarta – Tekanan inflasi di Amerika Serikat kembali meningkat dan mencapai level tertinggi sejak 2023. Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS yang dirilis pada Kamis, (25/6), kenaikan tersebut memperkuat perkiraan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan berikutnya jika tekanan harga belum mereda.
Data menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) secara tahunan naik menjadi 4,1 persen, tertinggi sejak April 2023. Sementara secara bulanan, inflasi PCE tercatat meningkat 0,4 persen. Adapun inflasi inti PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi mencapai 3,4 persen secara tahunan setelah naik 0,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Peningkatan inflasi dipengaruhi oleh kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Iran. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan biaya di sejumlah sektor, seperti perumahan, jasa keuangan, dan asuransi. Di tengah situasi itu, pelaku pasar masih menilai peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed pada September mendatang tetap terbuka.
Mengutip dari D kata data.com.id, Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, mengatakan inflasi saat ini telah mencapai level tertinggi dalam tiga tahun akibat perang Iran sehingga memberikan tekanan yang lebih besar terhadap masyarakat kelas menengah.
“Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, telah menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi. Pertanyaannya adalah seberapa besar tekanan inflasi dapat mereda sebelum September,” ujarnya
Baca juga: KAMPUS JADI INKUBATOR IDE BISNIS DAN KREATIVITAS MAHASISWA
Di tengah kenaikan inflasi, aktivitas konsumsi masyarakat Amerika Serikat masih menunjukkan pertumbuhan. Pengeluaran konsumsi pribadi meningkat 0,7 persen secara bulanan, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,6 persen. Pendapatan pribadi juga naik 0,7 persen, melampaui proyeksi sebesar 0,4 persen, sementara tingkat tabungan masyarakat meningkat menjadi 3 persen.
Data tersebut memperkuat sinyal yang sebelumnya disampaikan The Fed mengenai komitmennya menjaga inflasi kembali ke target 2 persen. Pada pertemuan terakhir, bank sentral AS juga menghapus proyeksi penurunan suku bunga tahun ini dan membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi masih bertahan.
Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan kondisi yang cukup kuat. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama direvisi naik menjadi 2,1 persen secara tahunan dari estimasi sebelumnya 1,6 persen. Selain itu, klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 215 ribu pada pekan yang berakhir 20 Juni 2026, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebanyak 223 ribu klaim.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar global karena arah kebijakan suku bunga The Fed diperkirakan akan memengaruhi stabilitas pasar keuangan serta arus investasi di berbagai negara.



