TasikmalayaHitz, – Massa dari Aliansi Revolusi Untuk Negeri (RUN) Kota Tasikmalaya menggelar aksi unjuk rasa bertajuk “Revolusi Kota Tasikmalaya: #tasikpoek #harapanpalsu”. Aksi ini digelar untuk menyuarakan berbagai persoalan daerah, mulai dari kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan.
Aksi tersebut berlangsung di depan Balai Kota Pemkot Tasikmalaya dengan pengawalan aparat kepolisian. Para peserta membawa spanduk dan poster yang memuat kritik serta tuntutan perubahan terhadap kebijakan pemerintah kota. Aksi kritik ini dilaksanakan pada Jumat 15 agustus 2025, dengan massa aksi mulai berdatangan sejak pagi.
Koordinator aksi, Mamat, memimpin jalannya orasi. Dalam kesempatan tersebut, ia mewakili aliansi menyampaikan kekecewaan terhadap kinerja Wali Kota Tasikmalaya, Piman Alvarisi, yang dinilai belum menepati janji politik saat kampanye. “Sampai hari ini, janji-janji politiknya masih jauh dari apa yang pernah dijanjikan. Kami greget melihat kinerjanya yang tidak sesuai harapan, baik di bidang kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, maupun lingkungan hidup,” ujar Mamat.
Menurut Mamat, masih banyak masalah yang belum terselesaikan. Ia mencontohkan kondisi terminal kota yang tidak beroperasi optimal, distribusi bantuan sosial yang tidak tepat sasaran, dan kesejahteraan tenaga pendidik yang masih minim. “Masih banyak data penerima bantuan yang tidak sesuai. Orang yang seharusnya mendapat bantuan justru tidak, sementara yang tergolong mampu malah menerima,” tegasnya.
Di sektor pendidikan, Mamat menyoroti masih banyak guru di tingkat SD, SMP, dan SMA yang berstatus honorer dengan kesejahteraan rendah. Permasalahan serupa juga terjadi di madrasah. Menurutnya, hal ini perlu menjadi prioritas penyelesaian. Mamat bahkan mengundang Presiden Republik Indonesia untuk turun langsung ke Tasikmalaya, menilai bahwa permasalahan tersebut sulit diatasi di level pemerintah kota. “Kami berharap Presiden datang, karena menurut kami wali kota tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah ini,” pungkasnya.









