Diskusi bertajuk “Sepak Bola antara Permainan, Olahraga, dan Industri” menyoroti hilangnya ruang publik bagi pecinta sepak bola di Kota Tasikmalaya. Berikut poin-poin pentingnya:
Nilai Historis dan Sosial: Bagi warga Tasikmalaya, sepak bola adalah identitas dan memori kolektif. Dahulu, lapangan kampung hingga alun-alun menjadi tempat pembentukan karakter dan perekat sosial antarwarga.
Krisis Ruang Publik: Seiring pembangunan kota, banyak lapangan bola di tingkat kelurahan menghilang. Hal ini menyebabkan anak-anak kehilangan tempat bermain yang semestinya dan terpaksa menggunakan area berbahaya seperti jalanan atau gang sempit.
Komersialisasi Olahraga: Dampak dari hilangnya lapangan gratis adalah munculnya industri olahraga berbayar, seperti mini soccer atau futsal. Ashmansyah Timutiah (Acong) menekankan bahwa biaya sewa yang mahal menciptakan ketidakadilan akses—sepak bola kini bukan lagi milik semua orang, melainkan bagi mereka yang mampu membayar.
Kritik Tata Kota: Masalah ini bukan sekadar soal hobi, melainkan cerminan kebijakan tata kota dan struktur ekonomi yang mengabaikan kebutuhan ruang terbuka bagi masyarakat




