Tasikmalayahitz.com, Tasikmalaya – Rangkaian kegiatan camp di Desa Santanamekar berlangsung meriah pada Sabtu malam hingga Minggu pagi, 22–23 Agustus 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya peserta camp, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan bersama warga yang mengangkat kebersamaan, kesenian, sejarah, serta tradisi masyarakat Desa Santanamekar.
Rangkaian kegiatan pada Sabtu malam diawali dengan pawai obor yang digiring dari wilayah bawah menuju lokasi camp. Pawai tersebut diikuti oleh warga setempat bersama sebagian peserta camp. Deretan obor yang dibawa sepanjang perjalanan menciptakan suasana malam yang hangat sekaligus memperlihatkan semangat kebersamaan antara warga dan peserta camp.
Sesampainya di lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional dari warga sekitar. Sejumlah kesenian ditampilkan, di antaranya pencak silat, jaipong, dan calung. Penampilan tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan masyarakat dalam rangkaian camp sekaligus memperkenalkan kesenian yang masih hidup dan berkembang di lingkungan Desa Santanamekar.
Suasana kemudian dilanjutkan dengan cerita sejarah Desa Santanamekar yang disampaikan langsung oleh Kepala Desa Santanamekar. Penyampaian sejarah berlangsung secara santai dengan diselingi lantunan musik keroncong. Kepala Desa juga menyampaikan cerita dengan guyonan sehingga suasana menjadi lebih akrab dan membuat peserta camp serta warga lebih mudah mengikuti kisah perjalanan Desa Santanamekar.
Dalam ceritanya, Kepala Desa menyampaikan bahwa dahulu masyarakat tidak mengenal istilah malam minggu seperti sekarang. Pada masa lalu, terdapat istilah “muyonan” yang menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Cerita tersebut menjadi pembuka sebelum Kepala Desa menjelaskan sejarah terbentuknya Desa Santanamekar.
Desa Santanamekar merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Cisayong yang pada saat itu memiliki wilayah yang cukup luas. Nama Santanamekar kemudian dikaitkan dengan nama Ali Santana, tokoh yang dikenal dalam sejarah pemerintahan Cisayong pada masa lalu. Kisah tersebut juga berkaitan dengan masa ketika pemerintahan masih berada pada zaman Belanda. Jejak sejarah Ali Santana hingga kini masih dapat ditemukan di sekitar Desa Santanamekar. Salah satunya adalah makam yang berada di dekat Kantor Desa Santanamekar.
Selain sejarah desa, Kepala Desa turut menceritakan asal-usul salah satu potensi wisata Santanamekar, yaitu Batu Blek. Pada zaman Belanda, masyarakat yang hendak menuju kawasan curug harus melewati sebuah batu yang bentuknya menyerupai kotak. Dari bentuk tersebut kemudian muncul penyebutan Batu Blek. Istilah “blek” dalam nama tersebut bukan berarti warna hitam, tetapi berkaitan dengan bentuk batu yang menyerupai kotak.
Keberadaan wisata Batu Blek kemudian turut membawa nama Desa Santanamekar semakin dikenal. Berkat pengembangan potensi wisata tersebut, Desa Santanamekar pernah memperoleh penghargaan dan mendapat kesempatan untuk berangkat ke Bali sebagai bagian dari apresiasi terhadap potensi wisata yang dimiliki desa.
Memasuki Minggu pagi (23/8), rangkaian kegiatan diawali dengan senam pagi bersama. Warga setempat dan peserta camp berkumpul untuk mengikuti kegiatan olahraga bersama sebelum melanjutkan acara berikutnya. Suasana pagi berlangsung meriah dengan warga dan peserta camp yang berbaur mengikuti kegiatan.
Setelah senam pagi, kegiatan dilanjutkan dengan tradisi ngobeng bersama warga setempat dan peserta camp. Ngobeng dilakukan dengan cara turun langsung ke kolam untuk menangkap ikan menggunakan tangan. Warga dan peserta camp ikut turun ke dalam kolam dan berusaha menangkap ikan yang telah disiapkan.
Kegiatan ngobeng berlangsung dengan penuh keseruan. Peserta harus bergerak di dalam kolam sambil mencari dan menangkap ikan dengan tangan, sehingga menciptakan suasana yang ramai dan penuh tawa. Kegiatan ini juga menjadi pengalaman langsung bagi peserta camp untuk mengenal salah satu tradisi yang dilakukan bersama masyarakat setempat.
Keterlibatan warga dan peserta camp dalam tradisi ngobeng menunjukkan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya sekadar perlombaan atau hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat interaksi dan kebersamaan. Peserta dapat mengikuti tradisi secara langsung sekaligus merasakan suasana kegiatan masyarakat Desa Santanamekar.
Rangkaian kegiatan camp yang berlangsung dari Sabtu malam hingga Minggu pagi tersebut menjadi pengalaman yang mempertemukan peserta dengan kehidupan masyarakat secara langsung. Mulai dari pawai obor, pertunjukan kesenian tradisional, cerita sejarah desa, senam pagi, hingga tradisi ngobeng, seluruh kegiatan melibatkan warga setempat.
Melalui rangkaian tersebut, Desa Santanamekar menunjukkan bahwa potensi desa tidak hanya terletak pada keindahan alam dan wisata, tetapi juga pada sejarah, kesenian, tradisi, serta semangat kebersamaan masyarakatnya.



