Tasikmalayahitz.com, Tasikmalaya – Malam rangkaian kegiatan camp di Desa Santanamekar, Sabtu (22/8), semakin meriah dengan penampilan berbagai kesenian tradisional dari warga sekitar. Pertunjukan tersebut menampilkan pencak silat, jaipong, dan calung yang dibawakan oleh masyarakat dari beberapa kampung di sekitar Santanamekar.
Penampilan diawali dengan pencak silat dari Kampung Leuwibodas yang dibawakan oleh Ririn dan Robi. Keduanya menampilkan gerakan pencak silat di hadapan warga dan peserta camp. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu bentuk pelestarian seni bela diri tradisional yang masih dikenal dan dipraktikkan oleh masyarakat setempat.
Setelah pencak silat, suasana dilanjutkan dengan kesenian jaipong dari Kampung Pasirkadu. Penampilan tersebut melibatkan Gina, April, dan Haris. Gerakan tari yang diiringi musik tradisional membuat suasana malam semakin hidup dan mendapat perhatian dari warga serta peserta camp yang hadir.

Rangkaian pertunjukan kemudian ditutup dengan kesenian calung dari Kampung Cigaleuh. Alunan musik calung menjadi bagian yang memperkaya rangkaian pertunjukan malam tersebut sekaligus memperlihatkan keberagaman kesenian yang dimiliki masyarakat di sekitar Desa Santanamekar.
Kehadiran para pelaku seni dari Leuwibodas, Pasirkadu, dan Cigaleuh menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Setiap kampung membawa kesenian masing-masing dan tampil dalam satu rangkaian kegiatan yang sama, sehingga menciptakan suasana kebersamaan antarmasyarakat.
Bagi peserta camp, pertunjukan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengenal kesenian lokal secara langsung. Tidak hanya menikmati pertunjukan, peserta dapat melihat bagaimana masyarakat sekitar turut mengambil bagian dalam menjaga dan memperkenalkan budaya yang dimiliki Desa Santanamekar.
Melalui penampilan pencak silat, jaipong, dan calung, rangkaian camp tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan dan menjaga kesenian tradisional masyarakat Santanamekar. Keterlibatan warga dari berbagai kampung menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat terus hidup ketika masyarakat bersama-sama melestarikannya.



