BeritaTeknologi

Minggu Seru di Universitas BSI Kampus Tasikmalaya, Transformasi Budaya menjadi tema pada Workshop Digital Kreatif

297
×

Minggu Seru di Universitas BSI Kampus Tasikmalaya, Transformasi Budaya menjadi tema pada Workshop Digital Kreatif

Share this article
Universitas BSI menyelenggarakan workshop Digital Kreatif dengan tema Transformasi Budaya, pada minggu 26 januari 2024

TasikmalayaHitz, Tasikmalaya –  Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Kampus Tasikmalaya. Berkolaborasi dengan Tasik Digital Kreatif Forum (TDKF), sukses menggelar Workshop Digital Kreatif yang berlangsung Minggu, 26 Januari 2025 di aula Universitas BSI Kampus Tasikmalaya mulai pukul 09.00 sampai pukul 12.00 WIB!

Tema yang diusung adalah “Peluang & Tantangan Transformasi Budaya di Era Digital”. Menghadirkan 3 narasumber keren diacara tersebut, yang pertama Arnik Agniya Fikriyah, M.Pd,  selaku Arnik Agniya Fikriyah, Wakil II Wanoja Budaya Jawa Barat 2024, ia menyoroti tantangan transformasi budaya lokal akibat dominasi konten global. Ia khawatir generasi muda kehilangan minat pada warisan budaya, yang dapat mengakibatkan ‘Erosi Identitas Budaya’.

Ia takut anak muda zaman sekarang tidak lagi peduli dengan budaya sendiri, dan ini bisa membuat mereka kehilangan jati diri budaya. Kemajuan dunia digital kreatif juga menurutnya telah membawa keuntungan yang baik terhadap pengenalan budaya. Arnik menekankan  anak muda sejatinya  ikut  melestarikan budaya, dan mempopulerkan budaya lokal maupun nasional pada media sosial untuk menjaga existensi budaya tersebut.

Kemudian pembicara kedua adalah Nega Dante yang merupakan Ketua Komunitas Wibu Aliansi Tasikmalaya, mewakili penyampaian anak-anak yang saat ini yang cenderung meniru tokoh favorit mereka di anime yang biasa disebut cosplay.

 

Dante menjelaskan bahwa era digital memiliki pengaruh besar terhadap minat anak muda, membuka peluang bagi mereka untuk mengembangkan bisnis kreatif. Kemudahan akses lintas budaya membuat anak muda cenderung meniru tokoh idola mereka dari anime dan manga Jepang. Kreativitas ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan melalui bisnis digital, seperti penjualan pakaian Cosplay, Coscom, atau produk kreatif lainnya.

“anak muda tidak salah mencintai budaya bangsa lain, namun tetap mencitai budaya bangsa sendiri, budaya lain bisa diambil sisi positifnya, seperti budaya jepang yang terkenal dengan anime, dan manga, budaya kedisiplinan, dan Budaya bersih warga Jepang adalah salah satu aspek yang paling menonjol dan dikagumi dari masyarakat Jepang”.

 

Serta Herlan Sutisna,S.T,M.Kom merupakan Dosen Universitas BSI yang menyampaikan peluang dari arus digital kreatif dalam kolaborasi lintas budaya

Menurutnya identitas itu menunjukkan siapa kita yang dicerminkan melalui media sosial. Generasi muda perlu mempelajari dan membanggakan warisan budaya. Terutama seni tari, pakaian adat, atau bahasa daerah mereka. Dengan adanya internet saat ini arus digital membuka ruang kolaborasi lintas budaya dan menciptakan inovasi baru yang menggabungkan tradisi dan teknologi modern saat ini.

sesi tanya jawab (Workshop Digital Kreatif)

Arus digital komunikasi juga memungkinkan seniman tradisional bekerja sama dengan kreator digital untuk membuat sebuah produk karya seni baru yang mencirikhaskan budaya lokal ke panggung internasional.

“Pahami terlbih dahulu makna dan nilai budaya sebelum mempraktikkan atau membagikannya ke media sosial. Hindari menggunakan budaya hanya untuk tren tanpa menghormati konteksnya,” ungkap Herlan

“manfaatkan teknologi dengan mengabadikan tradisi atau kebiasaan budaya lewat foto, video atau tulisan untuk menjaga existensi budaya dikalangan anak muda dan arsip buat generasi masa depan” tambahnya

Acara ini dipandu Haerul Fatah, selaku Ketua TDKF, ia mengingatkan pentingnya bagi generasi muda untuk tetap menjaga nilai-nilai budaya lokal di tengah perkembangan teknologi digital.

Pemberian Merchandise

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *