Tasikmalayahitz.com, Jakarta – Microsoft mengungkapkan bahwa penjahat siber saat ini dinilai lebih unggul dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan tim keamanan yang berusaha melawan serangan mereka.Minggu (4/10).
Temuan tersebut tercantum dalam Microsoft Digital Defense Report 2026, yang disusun berdasarkan lebih dari 165 triliun sinyal keamanan yang diproses Microsoft setiap hari. Dikutip dari Kompas.com, AI membuat serangan siber dapat dilakukan jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Peretas kini dapat menggunakan AI untuk membuat malware yang disesuaikan dengan target, mencuri data, hingga berpindah dari satu sistem ke sistem lain. Serangan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari dapat dilakukan dalam hitungan menit bahkan detik.
Baca juga: China Tawarkan Tur Teknologi Rp 264 Juta untuk Investor dan Pebisnis
Microsoft juga mencatat bahwa celah keamanan kini dapat dieksploitasi kurang dari 24 jam setelah ditemukan. Sementara itu, proses penambalan celah masih berjalan lebih lambat sehingga meningkatkan risiko serangan.
Dalam 12 bulan terakhir, Microsoft mendeteksi lebih dari 46 juta serangan yang menyamar sebagai email bisnis. Pencurian data juga terjadi pada 63 persen penyusupan yang terdeteksi.
Dikutip dari BleepingComputer, kelompok peretas dari sejumlah negara juga mulai memanfaatkan AI untuk mencari celah keamanan dan membuat alat peretasan. Namun, sebagian besar serangan saat ini masih membutuhkan kendali manusia.
Untuk mengurangi risiko, Microsoft menyarankan organisasi menggunakan autentikasi multifaktor (MFA) yang tahan terhadap phishing dan teknologi passkey. Organisasi juga diminta lebih aktif mencari celah keamanan sebelum dieksploitasi serta mempercepat proses penambalan sistem.



