TasikmalayaHitz, Tasikmalaya, 1 Agustus 2024-Penelitian tentang literasi membaca sudah banyak dilakukan, salah satunya dilakukan oleh Cahirunnisa (2017). Hasil penelitian mengungkapakan bahwa literasi membaca memiliki hubungan positif terhadap pemahaman bacaan. Hal tersebut tampak bahwa semakin tinggi literasi membaca seseorang, semakin tinggi juga pemahaman bacaan orang tersebut. Begitupun sebaliknya, semakin rendah literasi membaca seseorang, semakin rendah pula pemahaman bacaan seseorang.
Menurut Linatul Hikmah Pemahaman bacaan bukan hanya sekadar membaca kata demi kata, tetapi juga melibatkan kemampuan berpikir kritis untuk menghubungkan informasi yang ada dan membangun pemahaman yang lebih mendalam.
“Pemahaman bacaan adalah hasil interpretasi mahasiswa untuk mengerti sesuatu yang melibatkan keterampilan yang lebih tinggi, serta kegiatan yang menggali dan membangun makna dari setiap kata sehingga memunculkan informasi yang baru bagi pembaca dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kognitif pembaca dari bahan tertulis”. ujar Lina yang merupakan pustakawan Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Kampus Tasikmalaya.
“Pemahaman bacaan adalah proses menggali makna dari teks untuk memperoleh informasi baru.” Tambahnya.
Seiring perkembangan zaman, perkembangan teknologi dan informasi pun ikut berkembang. Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh dalam lingkungan teknologi digital, yang sumber informasi utamanya adalah Google. Mahasiswa tumbuh di dunia di mana komputer adalah bagian dari kehidupan, (mereka) terbiasa berkomunikasi terus menerus, melalui WA, Media Sosial, panggilan telepon dan email, dan akses cepat ke berbagai sumber informasi melalui Internet.
Media sosial sering kali menjadi sumber distraksi yang signifikan, mengalihkan perhatian mahasiswa dari kegiatan membaca yang produktif. Konten yang mudah dikonsumsi seperti video pendek dan meme dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk membaca bahan yang lebih berat dan mendalam.
Menurut Lina, Kebiasaan membaca cepat dan skimming yang didorong oleh konsumsi informasi di media digital dapat mengurangi kemampuan membaca mendalam dan kritis. Mahasiswa mungkin lebih memilih membaca ringkasan atau highlights daripada membaca teks lengkap dan mendalam.
“Konsumsi informasi digital mendorong kebiasaan membaca cepat dan skimming, yang dapat menghambat pemahaman bacaan mendalam.” Kata Lina
Berpikir kritis adalah proses disiplin intelektual yang secara aktif dan terampil mengkonseptualisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan/atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh, observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai panduan untuk meyakini dan tindakan.
Media sosial sering kali menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi atau hoaks, yang dapat membingungkan mahasiswa dan mengurangi minat mereka untuk mencari sumber yang lebih dapat diandalkan. Kurangnya filter dan moderasi terhadap konten yang tersebar di media sosial dapat merusak kualitas literasi informasi mahasiswa.
Dalam menghadapi darurat literasi tersebut, transformasi pustawakan sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan literasi terutama dalam dunia kampus atau pendidikan. Perubahan peran pustakawan dari mengelola koleksi buku menjadi fasilitator literasi informasi.
“Transformasi pustakawan menjadi fasilitator literasi informasi sangat dibutuhkan dalam mengatasi darurat literasi.” Ujar Lina
“Pustakawan sebagai mitra belajar, bekerja sama dengan mahasiswa dalam proyek penelitian mereka, memberikan saran tentang sumber daya digital yang dapat digunakan dan cara mengaksesnya”tambahnya
Pustakawan membantu mahasiswa dalam navigasi informasi digital, bukan hanya sebagai penyedia bahan pustaka saja namun turut membantu mahasiswa dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Pustakawan memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa menavigasi informasi digital yang semakin melimpah. Memanfaatkan sistem pencarian atau penelusuran yang memungkinkan mahasiswa menemukan sumber informasi dengan lebih mudah dan efisien.
Membuat program dan kegiatan literasi, pustakawan juga dapat menggandeng mahasiswa dalam menjalankan kegiatan literasi di kampus. Dengan bekerja sama dengan mahasiswa maka mereka akan mulai melakukan kegiatan literasi, yang diharapkan akan terus berlanjut.
Selain itu, untuk meningkatkan tingkat literasi dapat juga dengan menciptakan lingkungan membaca yang menarik. Meningkatkan daya tarik perpustakaan dapat melalui desain ruangan yang nyaman dan menarik. Nyaman bisa diartikan bahwa tempat membaca memiliki kondisi yang kondusif.








