TasikmalayaHitz – Banyak proyek teknologi gagal bukan karena kurangnya keahlian teknis, melainkan karena ketidakmampuan tim untuk beradaptasi saat rencana berubah. Bambang Kelana Simpony, seorang dosen dari Universitas BSI Kampus Tasikmalaya, menawarkan sebuah analogi yang untuk menggambarkan solusi: tim teknologi yang sukses bermain seperti band jazz, bukan orkestra klasik.
“Manajemen proyek tradisional terlalu sering mirip dengan orkestra klasik. Ada konduktor (manajer proyek) dan ada partitur musik (rencana proyek) yang sangat detail. Setiap musisi (programmer, desainer) harus memainkan bagiannya dengan presisi. Ini bekerja dengan baik jika tidak ada yang salah. Tapi di dunia teknologi, sesuatu selalu salah. Requirement berubah, bug tak terduga muncul, dan kompetitor mendadak meluncurkan fitur baru. Saat itu, partitur musik menjadi tidak berguna,” ujar Bambang.
Menurutnya, model yang lebih relevan untuk era ketidakpastian adalah improvisasi jazz. Dalam sebuah band jazz, ada tema atau struktur dasar, tetapi sebagian besar pertunjukan adalah improvisasi. Setiap musikus harus mendengarkan dengan saksama permainan anggota lainnya, merespons secara spontan, dan menciptakan harmoni dari interaksi real-time.
“Musikus jazz hebat bukanlah yang paling cepat memainkan notanya, melainkan yang paling baik dalam mendengarkan. Begitu juga dengan tim teknologi hebat. Mereka adalah kolektif yang bisa berimprovisasi, saling menutupi kelemahan, dan menemukan solusi kreatif di tengah kekacauan. Inilah ‘agile’ dalam bentuk yang sesungguhnya,” jelas Bambang.
Pendekatan ini, kata dia, membutuhkan pergeseran fundamental dalam cara kita mendidik para calon profesional teknologi. Inilah mengapa Universitas BSI secara sadar merancang ekosistem pembelajarannya seperti sebuah “ruang latihan jazz”.
“Kami tidak lagi memberikan mahasiswa proyek dengan instruksi langkah demi langkah. Sebaliknya, kami beri mereka masalah yang terbuka. Mereka harus membentuk bandnya sendiri, menentukan siapa yang memainkan ‘melodi’ (backend), siapa yang memberikan ‘ritme’ (database), dan siapa yang menciptakan ‘harmoni’ (UI/UX). Kami tidak mencari individu yang sempurna, kami mencari tim yang bisa menciptakan keajaiban bersama,” tambah Bambang.
Ia menambahkan, soft skills seperti komunikasi empatik, kepercayaan, dan kemampuan untuk memberikan dan menerima kritik konstruktif menjadi “instrumen” utama yang dilatih di sini. Tanpa instrumen ini, teknologi sehebat apa pun akan menghasilkan “musik” yang kacau.
“Jadi, bagi para pemimpin perusahaan teknologi, pertanyaan yang harus diajarkan bukan lagi ‘Apakah tim saya bisa mengikuti rencana?’. Melainkan, ‘Bisakah tim saya berimprovisasi dengan indah saat rencana sudah tidak relevan?’. Jawabannya akan menentukan siapa yang akan bertahan dan sukses di era digital. Dan itulah yang terus kami latih di setiap ‘sesi latihan’ di Universitas BSI,” pungkasnya.









