Berita

Saat Ucapan Terima Kasih Tak Lagi Mampu Membayar Lelahnya Menjadi Ibu

87
×

Saat Ucapan Terima Kasih Tak Lagi Mampu Membayar Lelahnya Menjadi Ibu

Share this article

TasikmalayaHitz – Hari ini, saat kalender menunjukkan angka 22 Desember, sebuah kemunafikan kecil kembali kita pelihara dengan sangat rapi. Sejak fajar menyingsing, ruang digital kita telah dibanjiri oleh potret-potret estetik, arsip foto lama yang penuh kenangan, hingga untaian kata-kata puitis yang barangkali paling indah yang pernah kita susun sepanjang tahun. Namun, di balik keriuhan notifikasi dan banjir simbol hati di layar ponsel, kita sering kali menganggap tugas kita selesai hanya dengan sekali tekan tombol unggah. Kita seolah sedang melunasi hutang budi setahun penuh dengan satu kiriman digital yang hanya akan bertahan selama dua puluh empat jam. Jika kita berani menepi sejenak dari hingar-bingar perayaan ini dan menyingkap tirai di baliknya, kita akan menemukan realitas yang jauh lebih berisik, melelahkan, dan berantakan daripada sekadar ucapan selamat yang manis.

Penting bagi kita untuk menyadari tepat di hari ini, bahwa napas asli dari peringatan ini bukanlah tentang merayakan seberapa enak masakan ibu di rumah. Jika kita menengok kembali pada momentum sejarah di Yogyakarta tahun 1928, ratusan perempuan berkumpul bukan untuk berbagi resep atau tips domestik. Mereka berdiri tegak untuk membedah masa depan bangsa yang masih terjajah, melawan buta huruf, menentang perkawinan anak, dan menuntut hak politik yang setara bagi kaumnya. Esensi asli dari hari ini adalah perlawanan dan kekuatan intelektual sebuah gerakan besar yang kini sayangnya mulai tergerus oleh komersialisasi buket bunga, cokelat, dan deretan diskon belanja yang terasa dangkal.

Di tengah riuhnya ucapan selamat hari ini, tantangan bagi sosok ibu di tahun 2025 justru terasa kian mencekik. Kita sedang menyaksikan fenomena beban tak kasat mata yang semakin berat di pundak perempuan. Dunia menuntut mereka untuk menjadi sosok yang mustahil yang harus tangguh dan kompetitif di tempat kerja, sempurna mengurus urusan domestik, sekaligus tetap tampil awet muda demi memenuhi ekspektasi kamera. Kita sering kali abai bahwa di balik label “Wonder Woman” itu, ada manusia yang punggungnya mulai lelah dan batinnya butuh ruang. Menjadi ibu di era algoritma berarti harus bertarung setiap detik dengan standar kesempurnaan yang tidak masuk akal, di mana kegagalan sekecil apa pun dalam pola asuh akan menjadi santapan penghakiman publik yang kejam.

Kebenaran yang paling jujur hari ini sering kali tidak ditemukan dalam unggahan media sosial yang indah, melainkan di dapur yang sunyi setelah pesta usai, atau pada helaan napas panjang seorang ibu saat anak-anaknya mulai terlelap. Penghormatan sejati bukanlah tentang seberapa viral foto ibu Anda hari ini, melainkan tentang seberapa besar ruang nyata yang Anda berikan agar ia tetap bisa menjadi manusia yang utuh dan merdeka. Menghargai ibu berarti berkomitmen untuk berbagi beban domestik secara adil, memberikan dukungan tanpa syarat pada mimpi-mimpinya yang barangkali sempat tertunda, serta memastikan hak-haknya terpenuhi tanpa ada lagi diskriminasi dalam bentuk apa pun.

Jangan biarkan momen 22 Desember ini hanya menjadi dosa manis tempat kita menebus rasa bersalah atas pengabaian panjang dengan satu baris kalimat puitis. Jika hari ini Anda sudah memberikan bunga, mulailah juga memberikan telinga untuk benar-benar mendengar keluh kesahnya yang selama ini terpendam. Jika hari ini Anda sudah memberikan kata-kata manis, mulailah memberikan tindakan nyata yang benar-benar meringankan bebannya. Sebab, kemuliaan seorang perempuan tidak pernah terletak pada seberapa kuat ia menanggung semua beban seorang diri, melainkan pada seberapa berdaya dan bahagianya ia menjalani hidup sebagai dirinya sendiri, tanpa harus terus-menerus menjadi martir bagi orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *