TasikmalayaHitz– Perjalanan Persebaya Surabaya dari tahun 2020 hingga akhir 2025 adalah kisah yang penuh dinamika, ditandai dengan perubahan besar, khususnya di tengah tantangan pandemi dan regenerasi skuad. Periode ini memperlihatkan Persebaya sebagai tim yang ambisius, namun sering kali terhambat oleh inkonsistensi.
2020-2022: Terhenti oleh Pandemi dan Kebangkitan Young Force
Periode awal (2020) dimulai dengan harapan tinggi di bawah pelatih Aji Santoso. Persebaya berhasil menjuarai Piala Gubernur Jatim 2020 dan menjadi salah satu penantang gelar Liga 1 2020, namun kompetisi harus dihentikan akibat pandemi.
Ketika Liga 1 kembali bergulir (musim 2021/2022), Persebaya menerapkan filosofi yang berani dengan mengandalkan pemain muda lokal (dijuluki Young Force), seperti Rachmat Irianto, Marselino Ferdinan, dan Rizky Ridho.
Pencapaian: Meski didominasi pemain muda, mereka tampil solid dan mampu finis di posisi kelima (musim 2021/2022) dengan raihan poin tertinggi sejak kembali ke kancah nasional, menunjukkan potensi besar. Permainan Persebaya saat itu dikenal atraktif, cepat, dan mengandalkan kecepatan sayap.
2023-2024: Inkonsistensi dan Pergantian Kursi Pelatih
Musim-musim berikutnya (2022/2023 dan 2023/2024) menjadi masa-masa yang lebih bergejolak. Persebaya sering kali memulai kompetisi dengan kuat dan bersaing di papan atas, namun mengalami penurunan performa drastis di pertengahan atau akhir musim.
Isu Krusial: Konsistensi menjadi masalah utama. Sering terjadi pergantian pemain asing dan rotasi pelatih kepala untuk mencari formula terbaik, termasuk kepindahan beberapa pemain pilar muda.
Pergantian Pelatih: Aji Santoso yang lama menukangi tim akhirnya berpisah di tengah jalan. Posisi pelatih kemudian diisi oleh Uston Nawawi (sebagai caretaker), disusul kedatangan pelatih asing seperti Paul Munster. Pergantian ini mencerminkan upaya manajemen untuk segera mengakhiri “puasa gelar” kasta tertinggi sejak tahun 2004.
Musim 2024/2025: Persebaya kembali menunjukkan potensi di awal, sempat bersaing di puncak klasemen. Namun, krisis di paruh kedua, ditandai dengan empat kekalahan beruntun pada Januari 2025, membuat harapan juara menipis dan tim terpuruk di papan tengah menjelang akhir musim.
Akhir 2025: Era Eduardo Perez dan Harapan Baru
Menjelang dan memasuki musim 2025/2026, Persebaya melakukan reset besar.
Pelatih Baru: Mereka menunjuk pelatih asal Spanyol, Eduardo Perez Moran, yang memiliki lisensi UEFA Pro dan mengusung filosofi sepak bola modern berbasis penguasaan bola. Perez menggantikan Paul Munster pada Juni 2025.
Komposisi Skuad: Persebaya meluncurkan skuad dengan perpaduan pemain internasional dan lokal yang menjanjikan, termasuk mempertahankan pemain kunci seperti Bruno Moreira dan merekrut beberapa nama baru. Tim pelatih juga diperkuat oleh legenda klub, Uston Nawawi, sebagai asisten, yang diharapkan dapat menjaga identitas Bajul Ijo.
Tren Terbaru (Paruh Pertama 2025/2026): Meskipun telah melakukan perombakan, hasil di awal musim 2025/2026 masih terlihat inkonsisten. Mereka berhasil memenangkan beberapa pertandingan penting, tetapi juga harus menerima kekalahan dan hasil imbang, termasuk kekalahan dari Persija (1-3) dan hasil imbang melawan Arema FC (1-1) pada November 2025.
Periode 2020-2025 bagi Persebaya adalah masa perkembangan bakat muda yang luar biasa di tengah penyurutan prestasi di kancah liga, di mana mereka kesulitan menjaga konsistensi untuk meraih gelar juara. Transformasi di tahun 2025 dengan pelatih baru dari Spanyol menunjukkan komitmen kuat klub untuk kembali menjadi penantang serius di papan atas dan mengakhiri penantian panjang gelar kasta tertinggi.



