TasikmalayaHitz, Tasikmalaya – Mahasiswa generasi digital saat ini dikenal multitasking, sering berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, membuka puluhan tab browser sekaligus, dan menyelesaikan tugas sambil mengecek media sosial. Kebiasaan ini oleh para pakar disebut sebagai “tab mental”, dan mulai banyak disoroti karena dampaknya terhadap fokus, produktivitas, dan kesehatan mental.
Bambang Kelana Simpony, Dosen Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Kampus Tasikmalaya, mengungkapkan bahwa kebiasaan multitasking ekstrem tersebut justru membuat pekerjaan jadi tidak selesai tuntas. “Saat mahasiswa membuka 10 tab sekaligus—kelas online, YouTube, e-commerce, Instagram, tugas skripsi—pikiran mereka terpecah dan sulit benar-benar fokus,” jelas Bambang.
Ia menjelaskan bahwa ‘tab mental’ bukan hanya sekadar metafora, melainkan mencerminkan cara kerja otak yang terus-menerus terganggu notifikasi dan pilihan digital. Hal ini dapat menimbulkan kelelahan mental, lupa waktu, dan bahkan kecemasan karena merasa belum produktif, padahal sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.
Untuk mengatasi hal ini, perlu adanya pembekalan kepada mahasiswa dengan pelatihan manajemen waktu dan teknik belajar fokus seperti metode pomodoro, digital minimalism, serta journaling tugas. Selain itu, dalam berbagai mata kuliah dan kegiatan kampus, mahasiswa diarahkan untuk menetapkan skala prioritas dan menyelesaikan tugas secara sistematis.
Sebagai kampus dengan biaya kuliah terjangkau, BSI Tasikmalaya terus mendorong mahasiswa untuk menjadi pribadi yang tidak hanya adaptif dengan teknologi, tapi juga bisa mengelola teknologi agar tidak menguasai hidup mereka.
“Multitasking berlebihan bukan berarti produktif. Kita perlu membiasakan menyelesaikan satu hal secara fokus sebelum pindah ke yang lain. Itu kunci keberhasilan belajar dan bekerja di era digital,” tutup Bambang.








