TasikmalayaHitz , Tasikmalaya – Di era digital seperti saat ini, jejak digital mahasiswa dapat menjadi pertimbangan serius bagi perusahaan dalam proses rekrutmen. Banyak perusahaan kini tidak hanya melihat CV dan nilai akademik, tetapi juga menelusuri rekam jejak calon karyawan melalui media sosial dan aktivitas daring lainnya.
Dosen Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Kampus Tasikmalaya, Bambang Kelana Simpony, mengingatkan bahwa mahasiswa perlu lebih sadar dan berhati-hati dengan apa yang mereka unggah, komentari, atau bagikan secara online.
“Banyak mahasiswa yang merasa dunia maya adalah tempat bebas. Padahal, semua yang dibagikan bisa saja jadi penilaian saat mereka melamar kerja nanti,” ujar Bambang.
Ia mencontohkan, unggahan yang mengandung ujaran kebencian, hoaks, hingga foto atau komentar yang tidak etis, bisa menjadi “bumerang digital” yang mencoreng reputasi mahasiswa di mata HRD atau perusahaan.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap hal ini, Universitas BSI Kampus Tasikmalaya Kampus Digital Kreatif secara aktif membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang literasi digital, etika bermedia, dan manajemen personal branding online. Hal ini dilakukan saat perkuliahan ataupun saat konseling dengan Dosen Penasehat Akademik.
“Kami tidak hanya menyiapkan mahasiswa untuk lulus, tapi juga untuk siap kerja dan siap bersaing. Salah satu caranya adalah dengan membentuk kesadaran digital sejak dini,” tambah Bambang.
BSI Tasikmalaya, dengan biaya kuliah yang terjangkau namun tetap berkualitas, berkomitmen membina mahasiswa agar tidak hanya unggul dalam akademik, tapi juga cakap dalam menjaga citra profesional di dunia maya.
“Jejak digital itu seperti CV kedua. Gunakan dengan bijak, karena ia bisa memperkuat atau menghancurkan peluangmu,” pungkas Bambang.



