OpiniPendidikan

Desainer UI Terbaik itu Berpikir seperti Pesulap

×

Desainer UI Terbaik itu Berpikir seperti Pesulap

Share this article

TasikmalayaHIitz– Apa yang membuat sebuah aplikasi atau website terasa begitu mudah dan menyenangkan digunakan, hingga pengguna tidak perlu berpikir dua kali? Jawabannya mungkin terletak pada sebuah profesi yang tak terduga: pesulap. Bambang Kelana Simpony, seorang dosen dari Universitas BSI Kampus Tasikmalaya, mengungkap rahasia di balik desain antarmuka pengguna (UI) yang memukau: para desainer terbaik berpikir seperti seorang pesulap di panggung.

“Banyak yang mengira desain UI adalah soal membuat tampilan yang cantik. Itu hanya permukaan. Inti sebenarnya adalah menciptakan ilusi kesederhanaan dari kompleksitas yang luar biasa. Sama seperti pesulap yang membutuhkan latihan bertahun-tahun untuk menyembunyikan gerakan tangannya, desainer UI hebat bekerja keras untuk menyembunyikan kekompleksan kode dan sistem di balik layar,” ujar Bambang.

Menurutnya, ada tiga prinsip sulap yang secara langsung dapat diterapkan dalam desain UI yang efektif:

  1. Misdirection (Mengalihkan Perhatian): Seorang pesulap mengalihkan perhatian audiens dari trik yang sedang dilakukan. Dalam desain UI, ini berarti memandu mata pengguna secara intuitif ke elemen-elemen penting, seperti tombol “Beli Sekarang” atau menu navigasi, sambil menyembunyikan elemen yang tidak perlu agar pengguna tidak kewalahan.
  2. Sleight of Hand (Keterampilan Tangan): Trik sulap yang tampak mudah adalah hasil dari gerakan tangan yang presisi dan latihan tanpa henti. Dalam UI, “keterampilan tangan” ini adalah kode yang bersih, arsitektur sistem yang solid, dan logika yang tanpa cela. Pengguna tidak pernah melihatnya, tetapi mereka merasakan hasilnya dalam bentuk antarmuka yang responsif dan tanpa hambatan.
  3. The Prestige (Puncak Keajaiban): Ini adalah momen “Aha!” ketika audiens takjub melihat hasil akhir trik. Dalam desain UI, “prestige” adalah tercapainya tujuan pengguna dengan mudah dan menyenangkan. Saat pengguna berhasil memesan tiket atau menyelesaikan tugas tanpa frustrasi, itulah “keajaiban” yang diciptakan oleh desainer.

“Inilah yang kami tanamkan pada mahasiswa Sistem Informasi di Universitas BSI,” jelas Bambang. “Kami tidak hanya mengajarkan cara menggunakan software seperti Figma atau Adobe XD. Kami mengajarkan mereka psikologi pengguna, seni bercerita (storytelling), dan cara berpikir kritis untuk memecahkan masalah.”

 

Ia menambahkan, mahasiswa BSI dilatih untuk tidak menjadi “tukang gambar”, melainkan menjadi “arsitek pengalaman” (experience architect). Mereka belajar untuk memahami karakter dan kebutuhan pengguna, lalu merancang sebuah “jalur ajaib” yang membawa pengguna dari titik A ke titik B dengan cara yang paling memuaskan.

“Tujuan akhir kami adalah menciptakan lulusan yang tidak hanya membuat aplikasi yang berfungsi, tetapi juga menciptakan produk yang dicintai. Produk yang membuat pengguna merasa pintar, cepat, dan terbantu. Dan itu, pada akhirnya, adalah seni tertinggi dari sulap modern,” pungkas Bambang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *