TasikmalayaHitz, Tasikmalaya – Media sosial dan platform berita online kini menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat, termasuk mahasiswa. Sayangnya, kemudahan akses ini juga dibarengi dengan maraknya informasi tidak valid, hoaks, dan konten dengan judul sensasional atau clickbait. Hal ini menjadi perhatian Bambang Kelana Simpony, Dosen Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Kampus Tasikmalaya, yang mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi.
“Di era digital, bukan hanya cepat yang penting, tapi juga akurat. Kita terlalu sering tergoda judul bombastis, lalu langsung bagikan tanpa baca isinya. Ini kebiasaan berbahaya,” ujar Bambang saat ditemui di kampus BSI.
Menurutnya, clickbait sengaja dirancang untuk memancing emosi dan respons instan, padahal isinya bisa jadi tidak sesuai atau bahkan menyesatkan. Apalagi jika informasi tersebut berkaitan dengan isu sensitif seperti agama, politik, kesehatan, atau pendidikan.
Sebagai bagian dari kampus yang berbasis teknologi, Universitas BSI Kampus Tasikmalaya secara aktif mengedukasi mahasiswa dan masyarakat tentang pentingnya verifikasi informasi, cross-check sumber, dan memahami konteks digital secara utuh.
“Kami ingin mahasiswa menjadi bagian dari solusi, bukan penyebar disinformasi. Karena saat ini, siapa pun bisa jadi ‘media’, maka tanggung jawab menyaring informasi menjadi milik semua orang,” tambah Bambang.
Kampus dengan biaya kuliah yang terjangkau ini juga mendorong mahasiswanya untuk aktif mengedukasi masyarakat lewat konten-konten edukatif, podcast, atau tulisan reflektif yang mempromosikan literasi digital.
Bambang menutup pesannya dengan kalimat singkat, “Baca dulu, pikir dulu, baru bagikan.”









