TasikmalayaHitz, Tasikmalaya – Mama Aceng Qosim Kurnia merupakan salah satu ulama besar dari LIMA ULAMA SALOPA ( LIMUS ) Sebelum Kecamatan Salopa Mekar menjadi dua yaitu Kecamatan Jatiwaras, berikut Lima Ulama Salopa :
- Mama KH. Aceng Qosim Kurnia ( Mama Sirnasari ) Kp. Sirnasari Desa Kaputihan Kecamatan Jatiwaras
- Apa KH. Saepudin Zuhri ( Apa Haur ) Haur Kuning, Desa Mandalaguna Kec. Salopa
- Mama mansur, Jatiwaras
- Apa Mu’in Cibalagbag, Salopa
- Singayun, Salopa
Mama Aceng Qosim Kurnia Sirnasari Atau lebih Dikenal ( Mama Aceng / Mama Sirnasari ) terlahir kembar bersaudara dari keluarga yang sederhana dari ayah yang bernama Bapak Mirdi dan Ibu yang bernama Neh Acah selanjutnya Dua bersaudara ini salah satunya Mama Aceng diasuh oleh Aneh Emi istri dari Aki Usdi yang menjadi salah satu Guru pertama beliau ketika masih kecil.
Pendiri Pesantren Nurul Falah Sirnasari KH Mama Aceng Qosim Kurnia dijelaskan oleh saksi hidup beliau, salah satunya Aki Kamal dan Aki Ugan yang juga Santri Pertama yang menjadi saksi perjuangan Mama Aceng serta Wa enur, Aj. Toha, Aj. Lukmanul Hakim, Aj. Sulaeman sebagai narasumber dan Bapak Jaliatul Abror selaku kepala wilayah juga sebagai orang yang mengangkat kisah Mama Aceng. Menurut keterangan santri pertamanya Mama Aceng Pernah menimba ilmu di banyak Pesantren Besar pada waktu itu, salah satunya.
- Pesantren Argasari kurang lebih 1 Tahun
- Mama Ahmad Syuhada ( Kubangsari, Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya ) kurang lebih 12 Tahun. Selanjutnya dipindahkan oleh gurunya.
- Mama Ahmad Syatibi Al-Qonturi ( Mama Gentur )
- Mama Aj. Qosasih ( Bojongsari Kota Tasikmalaya )
- Mama Soedja’i ( Mama Kudang )
- Mama KH. Muhammad Kholil ( Ayah Banjar )
- Mama Kresek ( Garut )
Begitu gigih nya beliau dalam menimba ilmu, sehingga guru Mama Aceng Qosim Kurnia Sangatlah banyak karena menurut Sejarah saksi hidupnya dulu sesudah mukim mendirikan Pesantren, setiap bulan Ramadhan penuh Mama Aceng meliburkan pengajian dan berangkat menimba ilmu ke Ulama Jumhur pada waktu itu sehingga guru-guru Mama Aceng sangatlah banyak dan tidak dapat diketahui secara detail. Menurut saksi hidup Mama Aceng beliau tidak pernah memutuskan mencari ilmu sampai mama Aceng jatuh sakit yang lamanya kurang lebih 9 tahun hingga kepergian beliau, mama Aceng punya kebiasaan rutin pengajian 1 bulanan ( sasihan ) yang diketahui beliau suka berangkat ke Jakarta di masjid Al-Azhar tepatnya ke KH Abdullah Syafi’i. Berikut sanad keilmuan Mama Aceng Qosim Kurnia Sampai Rasulullah SAW.
- Kanjeung Nabi Muhammad SAW.
- Sayyidina Abdullah bin Umar
- Al Imam Nafi Bin Hurmuji
- Al Imam Malik
- Al Imam Syafi’i
- Al Imam Ibrahim Almujani
- Al Imam Abu Sya’id Al Anbati
- Al Imam Abu Abbas bin Suroezi
- Al Imam Ibrahim Al Marwaji
- Al Imam Abu Bakar Alkopali
- Al Imam Abdullah Bin Yusuf Bin Muhammad Al Jawabi
- Al Imam Haromaen ( Abdul Malik Bin Abdullah)
- Al Imam Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Gojali
- Asyaikh Muhammad Bin Yahya
- Asyaikh Al Arda Biilii
- Al Imam Nawawi
- Assyaih Alaudin Alattori
- Syaikh Abdurrahim Al Aroqi
- Syaikh Ibnu Hajar Al Asqalani
- Asyaikh Zakariya Al-Ansori
- Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami
- Syaikh Zainudin Al Malibari
- Syaikh Sayyid Ahmad Jaini Dahlan
- Syaikh Nawawi Al-Bantani
- Syaikh Kholil Bangkalan ( Madura )
- Syaikh Mama Soedja’i Mama Gudang Tasikmalaya
- Syaikh Ahmad Syatibi Al-Qonturi ( Mama Gentur )
- Syaikh Mama Ahmad Syuhada ( Kubangsari )
- Syaikhona Alm Almaghfurlah KH Mama Aceng Qosim Kurnia Sirnasari
Dalam keterangan Sejarah, Mama Aceng mukim pada Tahun 1954 di Leuwi Lele sampai sekitar tahun 1955 ada gerombolan DI/TII (Organisasi Islam yang dikenal melakukan berbagai aksi kekerasan dan pemaksaan terhadap masyarakat, termasuk tokoh-tokoh agama), gerombolan tersebut ingin membawa beliau dengan cara dikepung mengelilingi rumah beliau sehingga beliau dapat lolos dengan cara keluar dari kebiasaan, diluar nalar manusia( Khoriqul adat ).
Menurut cerita yang disampaikan Putra Alm Mama yaitu Alm Uwa Aa Anwar Muplihin, Ketika Mama Aceng Di Kepung Oleh Gerombolan DI/TII beliau izin kepada para gerombolan untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu dan memasuki Rumah Untuk Mengganti Pakaian Dan Mengambil Wudhu Setibanya di dalam setelah Ganti pakaian dan mengambil wudhu tiba tiba hadir Sosok Guru Beliau ( Mama Ahmad Syuhada Kubangsari ) dan mengajak Mama Aceng Untuk Mengikutinya, tanpa disadari dan tidak ada satu orang pun mengetahui mama aceng keluar rumah oleh Gerombolan DI/TII yang Sudah menjaga di kediaman Rumah Mama Aceng, setelah lama menunggu Akhirnya salah satu anggota DI/TII mengecek ke dalam Rumah dan ternyata mama Aceng sudah tidak ada di dalam rumah. Wallahu’alam.
Setelah beberapa Minggu, diketahui Mama Aceng berada di Kubangsari kediaman Mama Syuhada kurang lebih 5 tahun, beliau di Kubangsari ada yang menyatakan Mama Aceng Mengajar Ngaji Sampai pada tahun 1960, Mama Aceng pun Kembali ke Honye Su’uk, kepindahan Mama Aceng ke Honye Su’uk ini juga sekaligus mengganti nama sebutan wilayah tersebut menjadi SIRNASARI Yang dikenal hingga saat ini. Maka dari itu catatan bersejarah ini menjadi salah satu tolak ukur pertama Kali Pondok Pesantren berdiri pada tahun 1960 dan diberi nama PONDOK PESANTREN NURUL FALAH ( Untuk Asrama Laki-laki ) dan NURUSYA’ADAH ( Untuk Asrama Perempuan ) sedangkan Masjid nya bernama MATHLA’UL ANWAR.
Mama Aceng Qosim Kurnia sejatinya beliau adalah ulama kharismatik, yang berakhlak mulia, ramah Tamah, sopan santun handap asor dan Tawadhu. Dalam hal ini Akhlakul Karimah mama ini membuat para santri terkagum kagum dengan Akhlak Mama pada waktu itu hingga sampai saat ini, orang yang pernah menyaksikan perilaku akhlakul karimah mama dijumpai rasa sedih dan kekaguman yang tak ada hentinya. Menurut Kang Toha ( Panyiraman ) Santri Tahun 1963 ketika beliau diantarkan oleh orang tuanya ke pesantren Nurul Falah Sirnasari, Mama selaku Pendiri Pesantren Menerima dengan Penuh Ramah Tamah dan Handap Asor yang penuh dengan rasa bangga dan penerimaan yang sangat sempurna dari Akhlak Mama Waktu itu sampai kang toha Santri Generasi awal Berkata “Akhlakul Karimah Mama Aceng Sirnasari ini tidak pandang bulu, baik bangsawan, tokoh yang masyhur, rakyat biasa, orang tua, anak kecil sekalipun tidak merubah Akhlakul Karimah Mama” salah satu dari banyaknya Akhlakul Karimah kebiasaan yang sering dilakukan Mama Aceng Sirnasari Adalah Ketika Bertemu Anak kecil, Mama Selalu Mengucapkan Salam terlebih Dahulu dan Bermushafahah beliau selalu melakukan itu.
Dalam segala urusan masalah, Mama Aceng selalu bersikap Tengah-tengah tidak ekstrim kiri dan juga tidak terlalu extrim kanan, beliau selalu menyeimbangkan situasi dan kondisi, tapi beliau juga sangatlah ketat dalam menjalankan syariat hukum Agama Islam apalagi dalam hal Shalat Berjama’ah beliau sangat ketat terhadap santrinya. Dan juga mulai dari cara berpakaian yang juga diajarkan kepada santrinya, ketatnya mama pada waktu itu sampai ada aturan celana pendek Tidak Diperbolehkan, kalau pun ada Ketika dijemur jemurannya tidak boleh terlihat ( tidak boleh terlihat umum ).
Ada juga kisah seorang santri yang pernah ditegur mama namun caranya yang sangat identik dengan akhlak beliau istilah sunda nya banyak yang bilang ( nyeuseulan na Mama mah asa di usapan ), santri tersebut kurang lebih 5 orang bermain Bola Volly yang terbuat dari daun kararas ( daun pisang yang sudah kering ) pada sore hari kala itu terbilang sangat rame / terlalu asik bermain ujar salah satu santri yang lima itu, tetapi mama tidak menegur santri yang lima tadi secara langsung pada waktu itu, sehingga pada saat pengajian subuh Mama Aceng Menyebut nama-nama santri yang lima orang tadi dan disuruh mengambil salah satu batu dari cipinaha. Ujar salah satu santri yang lima tersebut begitu luar biasa Akhlakul Karimah Mama Aceng yang sangat ketat terhadap santrinya tetapi juga sangat bijaksana dalam menegur santrinya.
Banyak juga orang berkata Mama Aceng Qosim Kurnia inti Akhlak, Sikap, Perilaku dan juga Tingkahnya beliau tidak ada celaan sedikitpun, begitu yang mashur orang katakan terhadap Akhlakul Karimah Mama Aceng Qosim Kurnia.
Mama Aceng Qosim Kurnia, yang dikenal akrab dengan panggilan Mama Aceng, wafat pada hari Selasa, 15 Sya’ban 1420 H bertepatan dengan 23 November 1999 di kediamannya. Kepergian ulama kharismatik ini mengakhiri perjuangan panjangnya melawan penyakit yang telah dideritanya selama kurang lebih 9 tahun. Dengan ketabahan dan kesabaran, beliau tetap membimbing umat dan pesantren meski dalam kondisi kesehatan yang menurun. Mama Aceng dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Nurul Falah Sirnasari, lembaga pendidikan Islam yang beliau dirikan dan besarkan dengan penuh dedikasi. Pemakaman beliau di lingkungan pesantren menjadi simbol bahwa jiwa dan raga Mama Aceng sepenuhnya didedikasikan untuk pendidikan dan penyebaran ilmu agama, bahkan setelah wafatnya. Para santri, keluarga, dan masyarakat mengiringi kepergiannya dengan doa dan tekad untuk meneruskan perjuangan dan wasiat mulia yang ditinggalkannya.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Mama Aceng, meninggalkan wasiat berharga yang menjadi pedoman bagi keluarga, santri, dan seluruh warga sekitar. Beliau berpesan agar seluruh warga dan para santri tidak pernah berhenti mengaji dan memperdalam ilmu agama. “Ilmu adalah cahaya kehidupan,”. Mama Aceng juga menekankan pentingnya menunaikan shalat berjamaah tepat waktu di masjid sebagai bentuk kedisiplinan dan kebersamaan dalam beribadah. Dengan penuh kasih, beliau menitipkan pesantren yang telah dibangun dengan jerih payahnya kepada anak dan cucunya untuk dilanjutkan, dengan harapan lembaga pendidikan tersebut terus mencetak generasi berilmu dan berakhlak mulia. Pesan terakhir yang sangat ditekankan oleh almarhum adalah agar keluarga dan santrinya selalu membaur dengan saudara, membaur dengan warga setempat, namun jangan sampai mengabaikan kewajiban mengaji dan beribadah kepada Allah yang tidak boleh terputus. Wasiat mulia ini kini menjadi pegangan kuat bagi keluarga besar pesantren dan masyarakat sekitar dalam menjalani kehidupan sehari-hari.









